BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dengan makin meningkatnya perkembangan industri dan perubahan secara global dibidang pembangunan secara umum di dunia, Indonesia juga tak mau ketinggalan dengan melakukan perubahan-perubahan dalam pembangunan baik dalam bidang teknologi maupun industri. Memasuki Abad XXI, Indonesia telah mencanangkan Era Industrialisasi. Sejalan dengan tekad tersebut, di dalam GBHN industrialisasi dengan segenap aspeknya sudah dimuat. Pengalaman dari bangsa-bangsa yang telah lama maju menunjukkan, bahwa banyak masalah yang terjadi pada awal industrialisasi, bahkan juga selama industrialisasi itu berjalan.

Dengan adanya perubahan kearah industrialisasi tersebut maka konsekuensinya terjadi perubahan pola penyakit / kasus-kasus penyakit karena hubungan dengan pekerjaan. Seperti disebabkan karena faktor mekanik (proses kerja, peralatan), faktor fisik (panas, bising, radiasi) dan faktor kimia. Pada awal industrialisasi, banyak masyarakat industri (industriawan maupun pekerja) yang belum siap mental, sehingga seringkali menjadi korban dari industri tersebut.

Pada umumnya kesehatan tenaga pekerja sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat pada negara-negara lain yang sudah lebih dahulu maju. Secara umum bahwa kesehatan dan lingkungan dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi. Dimana industrialisasi banyak memberikan dampak positif terhadap kesehatan, seperti meningkatnya penghasilan pekerja, kondisi tempat tinggal yang lebih baik dan peningkatan pelayanan. Akan tetapi kegiatan industrialisasi juga memberikan dampak yang tidak baik juga terhadap kesehatan di tempat kerja dan masyarakat pada umumnya.

Seperti telah disinggung pada paragraf sebelumnya, industrialisasi dapat mendatangkan kemakmuran, tetapi bila tidak dikelola secara profesional akan dapat mendatangkan bencana, misalnya: meningkatkan kecelakaan industri atau kecelakaan kerja, munculnya penyakit akibat pekerjaan (occupational disease), dan meningkatkan kerusakan lingkungan atau ekosistem.

Sadar betapa pentingnya industrialisasi bagi bangsa Indonesia, dan betapa pentingnya pencegahan terhadap dampak buruk tersebut di atas, dan bahkan sekaligus menyadari bahwa perlunya dikembangkan industri yang produktif, efisien dan efektif maka diperlukan pengawasan kesehatan pekerja yang benar-benar nyata oleh pihak pengusaha dengan cara pemeriksaan kesehatan berkala maupun dengan jaminan kesehatan kerja.

Berdasarkan data demografi kecamatan Kasihan bulan Desember 2002 jumlah penduduk yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kasihan II adalah sebanyak 43.116 jiwa, sedangkan jumlah penduduk pada bulan Desember 2003 adalah sebanyak 43.648 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki berjumlah 21.879 orang dan 21.769 perempuan. Dari data tersebut dapat diperkirakan laju pertumbuhan penduduk di wilayah ini adalah sebesar 1,23 % dari tahun sebelumnya.

Derajat kesehatan suatu masyarakat selain dipengaruhi oleh faktor pemberi pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat, genetik serta faktor lingkungan. Salah satu variabel yang mempengaruhi hubungan antara lingkungan dan perilaku masyarakat terhadap masalah kesehatan adalah sosial ekonomi. Sosial ekonomi masyarakat ditentukan oleh berbagai faktor. Salah satu diantaranya adalah rasio beban tanggungan penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif.

Usia kerja adalah rentang usia penduduk antara umur 15-60 tahun dimana dalam kisaran tahun ini, seseorang dalam masa produktif (bekerja). Di wilayah kerja Puskesmas Kasihan II berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, penduduk usia non produktif sejumlah 37.671 jiwa (76,28%) dan penduduk yang produktif sebesar 11.714 jiwa (23,72%) sehingga rasio beban tanggungan usia produktif sebesar 31,16 %. Hal ini berarti setiap 31 orang usia produktif menanggung beban sebanyak 100 orang yang non produktif atau setiap orang usia produktif menanggung 3-4 orang usia non produktif. Hal ini cukup memberatkan karena idealnya setiap orang usia produktif hanya menanggung maksimal 2 orang usia non produktif (untuk data demografi – kependudukan untuk lebih jelasnya lihat bagian lampiran).

Akibat dampak krisis ekonomi yang meluluhlantakkan sendi-sendi perekonomian Indonesia belakangan ini tidak membuat risau penduduk Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berbagai industri yang menjamur sejak terjadinya krisis ekonomi tahun 1997, kini malah kian bergairah melayani permintaan pasar domestik maupun mancanegara. Kondisi itu dengan sendirinya membuka lapangan kerja bagi warga setempat. Dalam skala makro, efek mata rantai produksi dan pemasaran industri yang bersifat kerakyatan tersebut diyakini punya andil dalam meredam potensi gejolak sosial. Aktivitas industri kerakyatan tersebut tidak sekadar memasok devisa bagi negara, tetapi juga berperan dalam mengantisipasi membengkaknya angka pengangguran akibat krisis. Kegiatan produksi hingga pemasaran dari sekitar 10.000 unit usaha kecil, setidaknya mampu memberi nafkah bagi 17.000-20.000 tenaga kerja berikut keluarganya.

Industri rumah tangga merupakan industri kecil yang bergerak di sektor informal yang menjadi dasar industrialisasi di Indonesia. Industri ini tersebar di berbagai sentra usaha kecil di 17 kecamatan di dalam ruang lingkup Kabupaten Bantul dengan mengolah berbagai komoditas, mulai dari mebel, gerabah, kayu, kulit, tekstil (batik) hingga logam. Belum lagi industri pengolahan makanan. Belakangan ini sekurang-kurangnya ada empat jenis usaha yang tergolong ramai sepanjang hari, yakni industri gerabah, kulit, bunga kering, dan pengolahan makanan. Namun sayangnya, pekerja di berbagai bidang kerja masih tergolong belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja ataupun jaminan atas kesehatan seperti yang diharapkan, apabila terjadi kecelakaan akibat kerja.

Di dalam pembangunan jangka panjang tahap ke 2 dan menghadapi era globalisasi, ketenagakerjaan semakin diharapkan kontribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan tercermin dengan meningkatnya profesionalisme, kemandirian, etos kerja dan produktivitas kerja. Untuk mendukung itu semua diperlukan tenaga kerja dan lingkungan kerja yang sehat, selamat, nyaman dan menjamin peningkatan produktivitas kerja.

Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman merupakan hal yang di inginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi sosial, mental dan fisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan suatu lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan absensi dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang sehat atau tidak sehat (sering terpapar zat berbahaya yang mempengaruhi kesehatan) dapat meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya kualitas kesehatan pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi dampak negatif lainnya.

B. Perumusan Masalah

Dalam suatu tempat produksi, tentunya mempunyai resiko penyakit akibat kerja terutama pada pekerjanya. Adanya perilaku tidak sehat dalam bekerja, karena paparan bahan-bahan kimia ataupun bahan-bahan yang dapat membahayakan kesehatan lainnya, ataupun dari polusi udara, serta suara dapat menimbulkan gangguan tertentu dalam tubuh maupun kesehatannya.

Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah Penyakit dan kecelakaan akibat kerja apa yang mungkin terjadi sehubungan dengan penggunaan bahan baku, tempat, alat, proses, buangan dan cara pemasaran di industri mebel Bapak Mugiyo.

C. Tujuan Tugas Kepaniteraan

1. Mengetahui penyakit akibat kerja yang mungkin terjadi pada para pekerja industri mebel Bapak Mugiyo di Dusun Kersan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

D. Manfaat Tugas Kepaniteraan

1. Bagi mahasiswa

a. Memahami tugas dokter industri.

b. Dapat mengetahui proses perolehan bahan baku, proses pembuatan dan cakupan pemasaran di industri mebel Bapak Mugiyo.

c. Dapat mengetahui permasalahan kesehatan yang diakibatkan oleh bahan-bahan produksi mebel

2. Bagi Pemilik Industri

a. Memonitor dan memberikan masukan tentang pengaturan lingkungan kerja.

b. Memberikan masukan terhadap masalah kesehatan, beban kerja, beban tambahan kepada pekerja dan pemecahan permasalahan yang ada.

c. Memaparkan informasi kesehatan dan meminimalisasi terjadinya kecelakaan yang dimungkinkan guna meningkatkan hasil produksi, kualitas produksi dan produktifitas pekerja.

d. Membina kesehatan tenaga kerja.

e. Mencegah terjadinya penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Kedokteran industri adalah ilmu dan seni yang mengaplikasikan ilmu kedokteran dalam perusahaan yang mempelajari penyakit yang timbul dalam perusahaan atau penyakit yang disebabkan oleh perusahaan.(Sumakmur,1986)

Kesehatan kerja merupakan spesialisasi dalam Ilmu Kesehatan / Kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar para pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setingi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit / gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum (Sumakmur, 1981).

Menurut Dainur, kesehatan kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara serta tindakan lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja dengan kesehatan baik fisik, mental maupun sosial yang maksimal, sehingga dapat berproduksi secara maksimal pula (Dainur,1992).

Sedangkan definisi lain menyatakan bahwa kesehatan kerja merupakan aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu tempat (perusahaan, pabrik, kantor, dan sebagainya) dan menjadi pasien dari kesehatan kerja ialah masyarakat pekerja dengan masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Apabila didalam kesehatan masyarakat ciri pokoknya adalah upaya preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan), maka dalam kesehatan kerja, kedua hal tersebut menjadi ciri pokok (Notoatmojo, 1997).

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja, lingkungan kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut (Dainur,1999).

Hiperkes merupakan suatu keilmuan multidisiplin yang menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja serta melindungi tenaga kerja terhadap resiko bahaya dalam melakukan pekerjaan serta mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan (Sugeng.B,1992).

B. Kesehatan Kerja dan Daya Kerja

Agar seorang tenaga kerja dapat terjamin keadaan kesehatan dan produktivitas kerjanya secara optimal, maka perlu ada keseimbangan yang menguntungkan dari faktor-faktor:

a. Kapasitas kerja

Kemampuan kerja seseorang tenaga kerja berbeda dari satu pekerja dengan yang lainnya dan sangat tergantung pada keterampilan, keserasian (fitness), keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran-ukuran tubuh. Laki-laki dan wanita berbeda dalam kemampuan fisik, serta kekuatan kerja ototnya.

Semakin tinggi kemampuan kerja yang dimiliki, semakin efisien badan dan jiwa bekerja, sehingga beban kerja menjadi relatif sedikit. Tidaklah heran apabila angka sakit dan mangkir kerja sangat kurang pada mereka yang memiliki cukup motivasi dan dedikasi. Ukuran tubuh statis atau dinamis, harus digunakan sebagai pedoman pembuatan ukuran-ukuran mesin dan alat-alat kerja sehingga dapat didapatkan efisiensi dan produktivitas kerja semaksimal mungkin.

Kesegaran jasmani dan rohani adalah penunjang produktivitas seseorang dalam kerjanya. Kesegaran jasmani dan rohani tersebut dimulai sejak memasuki pekerjaan dan terus dipelihara selama bekerja, bahkan sampai setelah berhenti bekerja. Kesegaran jasmani dan rohani tidak saja pencerminan kesehatan fisik dan mental, tetapi juga gambaran keserasian penyesuaian seseorang dengan pekerjaannya, yang banyak dipengaruhi oleh kemampuan, pengalaman, pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya. Begitu juga dengan tingkat gizi, terutama bagi pekerja kasar dan berat, adalah faktor penentu derajat produktivitas kerjanya.

b. Beban Kerja

Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya. Beban-beban tersebut tergantung bagaimana orang tersebut bekerja. Beban dimaksud dapat berupa fisik, mental, atau sosial. Seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Mungkin diantara mereka lebih cocok untuk menanggung beban fisik, atau mental, ataupun sosial. Dengan artian, orang yang bekerja dengan fisiknya lebih besar menerima beban fisik daripada mental atau sosialnya begitu juga sebaliknya.

Namun sebagaimana persamaan yang umum, mereka hanya mampu memikul beban sampai suatu berat tertentu. Bahkan ada beban yang dirasa optimal bagi seseorang. Derajat tepat suatu penempatan meliputi kecocokan pengalaman, keterampilan, motivasi dan lain sebagainya. Inilah maksud penetapan tenaga kerja yang tepat pada pekerjaan yang tepat atau pemilihan tenaga kerja tersehat untuk pekerjaan yang sehat pula.

Sebagai contoh, beban kerja fisik di industri mebel dapat berupa beratnya pekerjaan mengergaji, dan memperhalus mebel; beban kerja mental dapat berupa sejauh mana tingkat keahlian dan prestasi kerja yang dimiliki pekerja secara individu dengan individu lainnya, dan beban kerja sosial dapat berupa proses membangun dan mempertahankan interaksi sosial yang terjadi antara para tenaga kerja di lingkungan industri mebel tersebut.

c. Beban Tambahan Akibat Lingkungan Kerja

Sebagai tambahan terhadap beban kerja yang secara langsung akibat pekerjaan sebenarnya, suatu pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan atau situasi yang berakibat beban tambahan pada jasmani dan rohani tenaga kerja.

Terdapat empat faktor penyebab tambahan beban kerja yang dimaksud:

1. Faktor fisik yang meliputi bahan baku, peralatan, penerangan, suhu.

2. Faktor kimia, yaitu debu, cairan pelarut misalnya spiritus, cairan pewarna, seperti cat dan pelitur, serta benda kimia padat seperti dempul.

3. Faktor fisiologi, seperti konstruksi mesin, sikap dan cara kerja

4. Faktor psikologis yaitu suasana kerja, hubungan antara pekerja maupun dengan pengusaha, pemilihan kerja dan lain-lain

Faktor-faktor tersebut dapat mengganggu daya kerja seorang tenaga kerja, yaitu:

1. Penerangan yang kurang cukup intensitasnya dapat menyebabkan kelelahan mata.

2. Kegaduhan mengganggu daya ingat, konsentrasi pikiran dan berkaitan kelelahan psikologis.

3. Debu-debu yang dihirup ke paru-paru mengurangi penggunaan optimal alat pernafasan untuk mengambil oksigen dari udara.

4. Sikap badan yang salah mengurangi hasil kerja menyebabkan timbulnya kelelahan atau kurang maksimalnya alat-alat tertentu

5. Hubungan kerja tidak sesuai adalah sebab kerja secara lamban atau setengah-setengah.

Manusia dan beban kerja serta faktor-faktor dalam lingkungan kerja merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kesatuan demikian seringkali di gambarkan sebagai roda keseimbangan yang dinamis. Jika roda ini menguntungkan kesehatan tenaga kerja, maka roda tersebut merupakan roda pembangunan yang sangat penting. Sebaliknya apabila keseimbangan tidak menguntungkan, terdapatlah keadaan labil bagi tenaga kerja dan akan berakibat gangguan daya kerja, kelelahan, gangguan kesehatan, bahkan penyakit, cacat dan kematian. Penyakit demikian mungkin dapat berupa penyakit-penyakit umum dengan frekuensi dan berat yang meningkat, tapi mungkin pula menjadi penyakit akibat kerja.

C. Pencegahan Terhadap Gangguan Kesehatan dan Daya Kerja

Gangguan-gangguan pada kesehatan dan daya kerja berbagai faktor dalam pekerjaan dapat dihindarkan, apabila pekerja dan pimpinan perusahaan ada kemauan baik untuk mencegahnya.

Cara mencegah gangguan-gangguan tersebut adalah:

1. Ventilasi umum, yaitu mengalirkan udara sebanyak mungkin (sesuai perhitungan) ke dalam ruang kerja, agar kadar dari bahan-bahan yang berbahaya menjadi lebih rendah atau berkurang oleh pemasukan udara, sehingga sesuai dengan kadar Nilai Ambang Batas (NAB). NAB adalah kadar yang padanya atau di bawah dari padanya, yang apabila para pekerja menghirupnya selama 8 jam sehari, 5 hari dalam seminggu, tidak akan menimbulkan penyakit atau kelainan.

2. Ventilasi keluar setempat (lokal exhausters) ialah alat yang biasanya menghisap udara di suatu tempat kerja tertentu, agar bahan-bahan dari tempat kerja yang membahayakan dapat dihisap dan dialirkan keluar

3. Isolasi, yaitu mengisolasi operasi atau proses dalam perusahaan membahayakan seperti mesin gergaji, proses penghalusan, dan proses kerja lainnya yang sangat hiruk pikuk, agar kegaduhan yang disebabkannya turun dan tidak menjadi gangguan lagi.

4. Pakaian pelindung, misalnya masker, kacamata, sarung tangan, sepatu, topi, pakaian dan lain-lain.

5. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, yaitu pemeriksaan calon pekerja untuk mengetahui apakah calon pekerja tersebut serasi dengan pekerjaan yang akan diberikan kepadanya, baik fisik maupun mentalnya.

6. Pemeriksaan berkala, untuk evaluasi apakah faktor-faktor penyebab yang ada di tempat bekerja menimbulkan gangguan atau kelainan pada pekerja atau tidak

7. Pengarahan sebelum kerja, agar bekerja mengetahui dan mentaati peraturan-peraturan dan agar mereka lebih berhati-hati

8. Pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan pekerja secara berkelanjutan, agar para pekerja tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya.

D. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyakit Akibat Kerja

Dalam ruang atau tempat kerja biasanya terdapat faktor-faktor yang menjadi sebab terjadinya penyakit akibat kerja sebagai berikut:

1. Golongan fisik, seperti:

a. Suara yang bisa menyebabkan pekak atau tuli.

b. Penerangan lampu yang kurang baik misalnya kelainan pada indera pengelihatan atau kesilauan yang memudahkan terjadinya kecelakaan.

2. Golongan kimia, yaitu:

a. Debu yang menyebabkan pneumoconioses, diantaranya: silicosis, asbestosis.

b. Uap, misalnya dari proses pemanasan dempul, dermatitis misalnya karena alergi dengan cat kayu.

3. Golongan fisiologis, yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan konstruksi mesin, sikap badan yang kurang baik, salah cara melakukan pekerjaan dan lain sebagainya yang kesemuanya dapat menimbulkan kelelahan fisik, yang bahkan lambat laun dapat merembet pada perubahan fisik tubuh pekerja.

4. Golongan mental psikologis, Hal ini terlihat misalnya pada hubungan kerja yang tidak baik, atau misalnya keadaan monoton dan statis yang membosankan.

E. Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efisiensi setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin. (Aztanti, 1992)

Ergonomi juga berperan sebagai komponen kegiatan dalam ruang lingkup hiperkes yang antara lain meliputi penyerasian pekerjaan terhadap tenaga kerja secara timbal balik untuk efisiensi dan kenyamanan kerja. Ergonomi merupakan sinergi dari berbagai bidang ilmu seperti antropologi, biometerika, faal kerja, higiene perusahaan dan kesehatan kerja, perencanaan kerja, riset terpakai, dan cybernertika. Namun kekhususan utamanya adalah perencanaan dari cara bekerja yang lebih baik meliputi tata kerja dan peralatan

F. Faal Kerja

Faal kerja adalah ilmu tentang faal yang dikhususkan untuk manusia yang bekerja. Secara fisiologi atau faal, bekerja adalah hasil kerja sama dalam koordinasi yang sebaik-baiknya dari indra (mata, telinga, peraba, perasa, dan lain-lain), otak dan susunan di pusat dan di perifer, serta otot-otot tubuh. Selanjutnya untuk pertukaran zat yang harus dibuang masih diperlukan peredaran darah dari dan ke otot-otot. Dalam hal ini jantung, paru-paru, hati, usus, dan lain-lainnya menunjang kelancaran proses pekerjaan.

Jantung merupakan alat yang sangat penting bagi pekerja. Organ tersebut berperan sebagai alat yang bekerja untuk memompakan darah ke dalam otot-otot. Dengan jumlah denyutan setiap menitnya, maka jantung memompakan sejumlah darah arteri yang cukup untuk keperluan bekerja. Dengan kegiatan tubuh yang meningkat, jantung harus memompakan darah lebih banyak, yang berarti jumlah denyutan juga bertambah. Denyutan jantung dapat diukur dengan denyutan nadi. Jantung yang baik sanggup meningkatkan jumlah denyutannya dan dapat normal kembali sesudah kegiatan bekerja dihentikan.

Otot-otot adalah salah satu organ yang terpenting terutama untuk pekerjaan fisik. Otot bekerja dengan jalan kontraksi dan melemas. Kekuatan ditentukan oleh jumlah serat-serat ototnya, daya kontraksi, dan cepatnya kontraksi tersebut. Darah di antara serat-serat otot atau di luar pembuluh ototnya terjepit, sehingga peredarahan darah dan juga pertukaran zat terganggu dan hal demikian menjadi sebab kelelahan otot.

Otot dan tulang merupakan faktor terpenting dalam ukuran-ukuran tubuh, ukuran tinggi dan besar dari tubuh ataupun bagian-bagiannya. Ukuran-ukuran ini menentukan pula kemampuan fisik tenaga kerja. Peralatan kerja dan mesin perlu serasi dengan ukuran-ukuran demikian untuk hasil kerja sebesar-besarnya. Maka berkembanglah ilmu yang disebut dengan antropometri, yaitu ilmu tentang ukuran-ukuran tubuh baik dalam keadan statis ataupun dinamis.

Yang sangat penting dalam pekerjaan adalah ukuran-ukuran:

22. Berdiri: Tinggi badan, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul dan panjang lengan.

32. Duduk: Tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah, tangan, tinggi lutut, jarak lekuk garis punggung, jarak lekuk telapak kaki.

G. Diagnosis

Cara mengadakan diagnosis penyakit akibat kerja agak berlainan daripada mendiagnosis penyakit-penyakit umum, oleh karena itu perlu tambahan pertanyaan tempat kerja, cara dan syarat kerja juga riwayat pekerjaan penderita.

Beberapa langkah mendiagnosis penyakit akibat kerja:

1. Riwayat Penyakit dan Pekerjaan, untuk mengetahui adanya kemungkinan bahwa salah satu faktor di tempat kerja atau dalam pekerjaan yang bisa menyebabkan penyakit. Riwayat penyakit meliputi permulaan timbulnya gejala-gejala sewaktu penyakit masih dalam status dini, perkembangan penyakit selanjutnya, hubungan dengan pekerjaan dan lain sebagainya.

Riwayat pekerjaan harus ditanya dengan seteliti-telitinya dari permulaan kali si pekerja itu bekerja hingga akhir kerja. Misalnya pada saat mendiagnosa kasus penurunan pendengaran yang berlangsung secara sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama akibat bekerja di tempat penggergajian atau penghalusan kayu pada industri mebel.

2. Pemeriksaan klinis, untuk menentukan tanda-tanda dan gejala-gejala yang sesuai untuk suatu sindrom, yang sering khas untuk suatu penyakit yang disebabkan oleh salah satu faktor penyebab penyakit akibat kerja.

3. Pemeriksaan Laboratorium, untuk mencocokkan apakah benar atau tidaknya bahwa penyebab penyakit yang bersangkutan ada dalam tubuh manusia. Misalnya untuk memastikan kecurigaan adanya kuman TB pada sputum pekerja yang terus menerus batuk, ataukah karena si pekerja tersebut batuk akibat terpapar serbuk kayu setiap harinya.

4. Pemeriksaan Röntgen, pemeriksaan ini seringkali sangat membantu dalam menegakkan diagnosis suatu penyakit akibat kerja, terutama penyakit karena penimbunan debu di dalam paru-paru yang dikenal dengan pneumoconises.

5. Pemeriksaan Tempat atau Ruang kerja, untuk mengukur ada dan banyaknya faktor penyebab penyakit.

6. Hubungan antara Bekerja dengan Tidak Bekerja. Pada umumnya gejala yang timbul akan berkurang setelah istirahat, atau bahkan kadang-kadang dapat menghilang sama sekali, apabila si penderita tidak masuk kerja.

Jika dalam pemeriksaan masih meragukan maka keputusan semua ada pada dokter yang memeriksa. Dalam mendiagnosis penyakit akibat kerja sangat beresiko karena menyangkut Undang-undang Kecelakaan yang menetapkan pengusaha harus mengganti rugi dari akibat kecelakaan kerja.

H. Terapi

Seperti untuk penyakit-penyakit pada umumnya, maka terapi penyakit akibat kerja haruslah ditetapkan dan ditekankan pada penyebab suatu penyakit, sehingga terapi kausal dan simptomatis bersifat seperlunya saja.

I. Gangguan kebisingan pada kesehatan

Pengaruh utama dari kebisingan kepada kesehatan adalah kerusakan pada indera-indera pendengaran, yang dapat menyebabkan ketulian progresif. Dengan kemampuan higiene perusahaan dan kesehatan kerja, akibat-akibat buruk ini dapat dicegah. Mula-mula efek kebisingan pada pendengaran adalah bersifat sementara dan pemulihan terjadi secara cepat sesudah dihentikannya kerja di tempat bising. Akan tetapi bekerja secara terus-menerus di tempat bising dapat berakibat kehilangan daya dengar yang menetap dan sampai tidak pulih kembali, yang biasanya dimulai dari frekuensi-frekuensi sekitar 4000 Hz dan kemudian menghebat dan meluas ke frekuensi-frekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi-frekuensi yang digunakan untuk percakapan.

J. Pengendalian Kebisingan

Kebisingan dapat dikendalikan dengan:

1. Pengurangan kebisingan pada sumbernya

Dapat dilakukan misalnya dengan menempatkan peredam pada sumber getaran, tetapi umumnya hal ini dilakukan dengan penelitian dan perencanaan mesin baru.

2. Penempatan penghalang pada jalan transmisi

Isolasi tenaga kerja atau mesin adalah usaha segera dan baik bagi usaha mengurangi kebisingan.

3. Proteksi dengan sumbat atau tutup telinga

Tutup telinga biasanya lebih efektif daripada penyumbat telinga. Alat ini dapat mengurangi intensitas kebisingan sekitar 20-25 dB. Sumbat telinga baru dipakai, apabila:

a. Sumbat telinga benar-benar diperlukan, yaitu bila ada kebisingan lebih dari 100 dB.

b. Tenaga kerja dapat membiasakan diri untuk memakainya, yang biasanya dicoba dalam waktu 3-4 minggu.

BAB III

METODE KERJA KEPANITERAAN

A. Jenis Kerja Kepaniteraan

Kerja Kepaniteraan yang dilakukan dengan metode observasi dengan wawancara, pemeriksaan fisik, dan kuesioner terhadap pekerja industri serta mengamati langsung proses industri.

B. Tempat dan Waktu Kerja Kepaniteraan

Pengamatan dilakukan di Industri Mebel milik Pak Mugiyo yang berlokasi di Dusun Kersan, RT 06, RW 05, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Pengamatan dilaksakan selama 2 hari. Tanggal 17 dan 23 Maret 2004.

C. Subyek Kerja Kepaniteraan

Subyek penelitian ini adalah semua pekerja di pabrik mebel Bapak Mugiyo yang berlokasi di Dusun Kersan, RT 06, RW 05, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

D. Variabel Pengamatan

1) Variabel Dependen (Bebas):

Kesehatan kerja meliputi beban kerja, beban tambahan kapasitas kerja, dan lingkungan pekerjaan.

2) Variabel Tergantung:

Penyakit-penyakit akibat pekerjaan; karateristik 3 pekerja mebel yang meliputi usia, jenis kelamin, status dan pendidikan. Perilaku pekerja mebel terhadap keluhan penyakit akibat kerja, keluhan umum yang paling sering, penyakit kronis yang pernah diderita, gangguan lingkungan kerja dan perilaku terhadap kesehatan, serta pemeriksaan fisik.

E. Definisi Variabel Operasional

1) Kesehatan akibat kerja: Keadaan sakit yang diderita setelah melakukan pekerjaan.

2) Usia: Umur pekerja mebel saat dilakukan penelitian dan dilakukannya pengelompokan (20-30 tahun, >30 tahun).

3) Jenis kelamin: Jenis kelamin pekerja mebel laki-laki.

4) Status: Keadaan dalam perkawinan yaitu kawin dan tidak kawin.

5) Pendidikan: Pendidikan formal tertinggi yang pernah ditempuh dikelompokkan dalam SD, SLTP, SLTA/SMK.

6) Lama Kerja: Waktu bekerja dalam jam, hari, tahun.

7) Keluhan akibat kerja: Keluhan yang didapat akibat kerja.

F. Pengumpulan Data

1) Pemeriksaan Fisik pada karyawan yang mengarah terhadap gangguan yang ditimbulkan oleh pekerjaan.

2) Wawancara terstruktur menggunakan kuesioner kepada karyawan industri mebel Bapak Mugiyo dengan kunjungan langsung ke lokasi penelitian.

3) Observasi lapangan dengan melihat langsung kondisi lingkungan industri tempat kerja para karyawan.

G. Alat dan Bahan

Meteran, timbangan berat badan, kuesioner, stetoskop dan tensimeter.

H. Analisa Data

Data yang diperoleh ditampilkan dalam bentuk analisis uraian. Analisa data dilakukan secara deskriptif kualitatif dari hasil survei , pemeriksaan fisik, dan wawancara dengan kuesioner.

I. Jalannya Kerja Kepaniteraan

Penelitian dilakukan dengan tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan.

1) Persiapan

Sebelum penelitian dilakukan, sehari sebelumnya dilakukan survei industri mebel untuk melihat lokasi, pekerja, dan mencari informasi.

2) Pelaksanaan

Pada hari yang telah ditentukan dilakukan wawancara pada pekerja saat mereka istirahat dengan melakukan pengisian kuesioner.

3) Pelaporan

Setelah kuesioner terisi, dilakukan koreksi data dan pengolahannya secara manual dan kemudian dianalisa sesuai dengan data yang terkumpul.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil Perusahan

1. Data industri

Industri mebel Bapak Mugiyo berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Merupakan industri kecil berbasis keluarga yang diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Industri mebel ini terletak di Dusun Kersan, RT 06, RW 05, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, industri ini didirikan oleh kakek Bapak Mugiyo, dan diteruskan sampai sekarang dengan “otak” perusahaan Bapak Mugiyo sendiri, dan sejak sekitar kurang lebih 3 tahun yang lalu, anak laki-laki Bapak Mugiyo mulai bergabung ke industri kecil keluarga ini. Seperti telah disinggung sebelumnya, berhubung industri mebel milik Bapak Mugiyo ini merupakan industri kecil berbasis keluarga, jadi tidaklah mengherankan apabila total jumlah pekerjanya hanya tiga orang saja, kesemua pekerja ini laki-laki; salah satunya anak laki-laki Bapak Mugiyo seperti telah disebut tadi, dan dua orang lainnya, masih merupakan keluarga, yaitu adik dan sepupu Bapak Mugiyo sendiri. Kedua orang pekerja yang masih famili ini berasal dari daerah sekitar tempat industri, yaitu masih bertempat tinggal di ruang lingkup Dusun Kersan juga.

Kegiatan pemasaran mebel dilakukan hanya berdasarkan masuknya pesanan, jadi omset industri ini juga tidak menentu. Apabila sedang banyak pesanan, omset industri ini dapat mencapai tiga juta lebih perbulan, dan sekitar satu sampai satu setengah juta rupiah apabila sedang sepi pesanan. Pendapatan atau omset perbulan industri mebel Bapak Mugiyo ini dihitung berdasarkan bayangan banyaknya pesanan dihubungkan dengan masing-masing jenis hasil industrinya, antara lain: lemari pakaian besar (harga Rp. 750.000,00/unit) dan lemari kecil (harga Rp. 500.000,00/unit) yang biasanya sebanyak 1-2 unit pesanan perbulannya; daun pintu (harga Rp. 300.000,00/lembar) yang biasanya sebanyak 2-3 unit pesanan perbulannya yang merupakan jenis mebel yang dihasilkan oleh industri Bapak Mugiyo yang paling banyak dipesan; dan kusen jendela / pintu (Rp. 30.000,00/meter). Namun disini yang perlu dicatat bahwasanya pesanan mebel di industri mebel ini biasanya selalu ada, walaupun dalam jumlah sedikit sehingga mata rantai industrinya tidak pernah terputus.

Di industri mebel ini menghasilkan barang-barang jadi berbentuk mebel yang bervariasi jenis dan ukurannya. Mulai dari almari kayu pakaian, meja kursi, daun pintu, bingkai pintu dan jendela dan lain sebagainya. Seluruh kegiatan mulai dari pembentukan bahan jadi sampai proses finishing dilakukan oleh industri mebel bapak Mugiyo itu sendiri. Karena jalannya industri berdasarkan pesanan yang masuk, maka selain pemasukan omset, jam kerja karyawan juga tidak kadang menjadi tidak menentu. Untuk gambaran, jika hendak disamaratakan, biasanya jika pesanan sedang ramai, jam kerja dalam seharinya berkisar selama ~ 9 jam, yaitu dari jam 09.00/10.00-17.00 WIB. Sedangkan waktu istirahat juga tidak terlalu ketat, relatif hanya sebentar, berkisar antara 15-30 menit paling lama, dan bisa lebih dari satu kali. Dalam satu minggu terhitung 6 hari kerja. Status pekerja adalah sebagai pegawai tetap harian, bukan borongan.

2. Bahan baku yang digunakan

Pada proses pembuatan mebel di tempat Bapak Mugiyo, digunakan bahan baku berupa kayu jati. Kayu jati ini dibeli oleh Bapak Mugiyo masih dalam bentuk kayu gelondongan yang didapat dari pemasok langganannya yang berasal dari Dusun Salam, Bangunjiwo, Bantul. Seperti telah disebut di atas, industri mebel Bapak Mugiyo menghasilkan berbagai macam jenis model mulai dari lemari hias, daun pintu, meja makan, kursi tamu dan lain sebagainya. Lamanya proses pembuatan tergantung dari jenis mebel yang dipesan. Sebagai contoh, untuk pembuatan lemari pakaian, membutuhkan waktu kurang lebih 3 hari sampai ½ jadi, dan kira-kira 4 hari untuk mendapatkannya dalam bentuk benar-benar jadi.

Bahan baku pendukung industri relatif cukup banyak dan bervariasi, mulai dari paku, sekrup, dempul, pelitur, lem kayu dan cat kayu sesuai dengan warna pesanan.

3. Peralatan yang digunakan

Alat-alat yang digunakan dan tersedia dalam proses pembuatan di industri mebel kayu Bapak Mugiyo adalah sebagai berikut:

a. Gergaji Berputar

Fungsi dari gergaji berputar ini yaitu untuk memotong / menggergaji kayu atau papan sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Alat ini bekerja dengan menggunakan dinamo.

b. Tatah

Fungsi dari alat ini adalah untuk melubangi kayu sesuai dengan yang dibutuhkan. Industri mebel Bapak Mugiyo memiliki 2 jenis tatah, ada yang manual dan ada yang bertenaga listrik.

c. Gergaji

Alat ini digunakan untuk memotong kayu yang digunakan secara manual.

d. Palu

Alat ini digunakan untuk memaku kayu yang masih bersifat manual.

e. Pasah manual dan elektrik

Digunakan untuk menghaluskan kayu sesuai dengan kebutuhan.

f. Bor

Digunakan untuk melubangi kayu sebagai permulaan, sebelum dilakukan pemakuan dilakukan seperti biasa. Tindakan ini bertujuan untuk menghindari pecahnya rangka kayu akibat tekanan pukulan palu nantinya.

g. Meteran

Digunakan untuk menentukan ukuran kerangka kayu pada saat mereka bentuk mebel yang diinginkan.

4. Proses kerja mebel Bapak Mugiyo

Proses pembuatan mebel melalui beberapa tahap:

a. Mereka pola

Para karyawan mengaku sudah hafal dan fasih betul mengenai seluk beluk jenis mebel yang akan mereka buat sehingga mereka tidak perlu menggambar pola terlebih dahulu di atas lempengan kayu yang akan dipotong. Dalam menentukan pola mebel, mereka sudah sangat terampil sehingga tercipta mekanisme otomatisasi dalam proses pembuatanya. Dari sini dapat dinilai tingkat keahlian para pekerja mebel Bapak Mugiyo.

Soal inovasi model, mereka mempunyai cara khusus untuk menyiasatinya, yaitu dengan cara mencontoh model mebel yang sudah ada, tren, dan tentunya belum pernah dibuat oleh para pekerja. Ditambah lagi, biasanya ada beberapa pemesan yang membawakan contoh mebel yang mereka inginkan untuk kemudian diadaptasi. Dengan metode seperti ini, variasi model industri mebel Bapak Mugiyo kian hari kian beragam dan mengikuti mode yang terus berkembang.

b. Pemilihan bahan

Bahan yang dipilih industri mebel ini adalah kayu jati karena kayu jati telah terjamin kualitasnya, baik dari segi awet atau tahan lamanya, segi ketersediaan yang lumayan mudah didapat, dan dari harganya yang bersaing.

c. Pertukangan, meliputi:

1) Pemotongan kayu jati gelondongan menjadi beberapa lapis yang kemudian dijemur untuk menunggu proses pengerjaan. Pemotongan kayu gelondongan ini tidak dikerjakan langsung di tempat Bapak Mugiyo, melainkan dipotongkan di Dusun Jepit, Kabupaten Bantul. Selain hasil potongan kayu utama yang akan digunakan sebagai bahan baku, seluruh bagian kayu lainnya seperti potongan-potongan kecil kayu sisa potongan utama dan kulit kayu dibawa pulang oleh Bapak Mugiyo.

2) Pemotongan kayu sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan berdasarkan jenis mebel pesanan.

3) Proses pembuatan dari barang ½ jadi menjadi barang jadi, antara lain melalui proses:

· Menghaluskan kayu dengan pasah

· Mengebor kayu, pentatahan, penyekrupan dan pengeleman kayu untuk proses perangkaian.

· Merangkai menjadi suatu produk mebel sesuai dengan pesanan.

· Proses finishing mebel, mulai dari memperhalus kayu dengan amplas, proses pendempulan untuk menyempurnakan tekstur kayu, pemasangan bahan pendamping seperti kaca dan lain sebagainya, pemelituran kayu agar mengkilat, sampai proses pengecatan mebel sesuai dengan permintaan (atau hanya dipelitur, dengan tujuan untuk mengekspos warna asli dan menonjolkan tekstur kayu).

B. Pekerja

Total jumlah pekerja hanya berjumlah 3 orang, dan dari kuesioner terhadap 3 orang karyawan tersebut sebagai responden, diperoleh data sebagai berikut:

1. Karateristik responden

Tabel 1. Karateristik responden di industri mebel Bapak Mugiyo

No.

Karateristik Responden

n

Persentase (% )

1.

Usia:

·

· 20 – 30 tahun

· > 30 tahun

0

1

2

0

33,33

66,66

2.

Jenis Kelamin:

· Laki-laki

· Perempuan

3

0

100

0

3.

Tingkat Pendidikan:

· SD

· SLTP

· SLTA/SMK

3

0

0

100

0

0

4.

Status:

· Kawin

· Tidak kawin

2

1

66,66

33,33

Sumber: Data Primer Responden Industri Mebel Bapak Mugiyo, di Dusun Kersan, April 2004

Berdasarkan hasil wawancara dengan panduan pertanyaan-pertanyaan kuesioner, didapatkan 1 (33,33%) orang karyawan berusia antara 25 tahun, 2 (66,66%) orang lainnya berusia ≥ 40 tahun, yaitu masing-masing 40 dan 46 tahun, dengan demikian pemakaian tenaga kerja sesuai UU No. 20 tahun 1999 tentang larangan mempekerjakan pekerja yang usianya kurang dari 15 tahun. Jenis kelamin 100 % pekerja adalah laki-laki, tingkat pendidikan tertinggi seluruh pekerja hanya sampai jenjang Sekolah Dasar (SD), dan status karyawan semuanya sudah menikah (100%).

Dari data tersebut dapat dinilai bahwa karyawan di industri ini berada dalam usia produktif yang akan mempengaruhi produktivitas kerja dan kesehatan kerja. Pendidikan tertinggi dari para karyawan adalah tingkat Sekolah Dasar (SD), hal ini disebabkan oleh keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan dan tuntutan ekonomi yang mengharuskan mereka untuk bekerja. Hal ini tidak begitu mempengaruhi proses pekerjaan karena sebelum masuk kerja calon pekerja diberikan pendidikan kilat oleh pemilik ataupun belajar sambil jalan bagaimana proses pembuatan mebel.

Dua (66,66%) karyawan dalam status kawin, sehingga mereka lebih memiliki tanggungan hidup yang lebih berat dibandingkan 1 karyawan lainnya (33,33%) yang belum menikah, dimana mungkin disebabkan oleh karena usianya yang masih relatif muda, sehingga masih berkeinginan untuk mencari pengalaman kerja terlebih dahulu dan menikmati hasil keringatnya sendiri.

2. Distribusi riwayat pekerjaan responden

Tabel 2. Distribusi jumlah pekerja terhadap riwayat pekerjaan responden di industri mebel Bapak Mugiyo

No.

Riwayat Pekerjaan

n

Persentase (%)

1.

Lama bekerja di industri mebel ini:

·

· 6-12 bulan

· 1-1,5 tahun

· > 1,5 tahun

0

0

0

3

0

0

0

100

2.

Lama bekerja dalam sehari:

· 1-3 jam

· 4-6 jam

· 7-9 jam

· > 10 jam

0

0

3

0

0

0

100

0

3.

Istirahat saat jam kerja:

· 15 menit

· 30 menit

· 45 menit

· 1 jam

· > 1 jam

3

0

0

0

0

100

0

0

0

0

4.

Posisi saat kerja:

· Hanya duduk

· Hanya berdiri

· Hanya jongkok

· Hanya membungkuk

· Gabungan semua posisi di atas

0

0

0

0

3

0

0

0

0

100

Sumber: Data Primer Responden Industri Mebel Bapak Mugiyo, di Dusun Kersan, April 2004

Menurut lama bekerja, 100 % karyawan bekerja lebih dari 1,5 tahun di industri mebel ini, bahkan ada yang telah duapuluhan tahun. Dan seluruh karyawan juga bekerja selama kurang lebih 9 jam perhari tergantung banyaknya pesanan pelanggan (100%). Kemampuan seseorang untuk bekerja dalam seharinya adalah 8-10 jam, jika lebih dari itu maka efisiensi dan kualitas kerja akan sangat menurun. Hal ini yang dapat membuat gangguan kerja seperti kejenuhan dan depresi sehingga dapat mengurangi konsentrasi dan kapasitas kerja.

Kurang lebih dalam satu hari para karyawan (100%) beristirahat hanya sekitar 15 menit namun bisa lebih dari sekali dalam seharinya. Istirahat ini dipakai para karyawan untuk makan, minum, merokok, ataupun istirahat sholat. Hal ini berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dari pekerja, karena istirahat dapat melemaskan otot-otot yang tegang karena dipakai bekerja. Sedangkan dari sisi rohani tak dilupakan, dengan pemenuhan kewajiban sholat para karyawannya.

Pada saat bekerja, seluruh karyawan (100%) bisa berada dalam berbagai posisi, gabungan dari posisi duduk, berdiri, jongkok, dan membungkuk. Posisi duduk misalnya untuk mengergaji secara manual, memaku, menyekrup / menggabungkan kayu, dan memasah kayu. Posisi berdiri misalnya pada saat memotong kayu, menghaluskan kayu, mendempul, mempelitur, memaku, dan mengebor kayu. Posisi jongkok misalnya bila pekerja sedang mengamplas, memaku atau mengebor kayu. Dan posisi membungkuk biasanya gabungan semua kegiatan di atas. Otot-otot yang bekerja ini akan berpengaruh pada kelelahan otot yang sering diderita oleh para karyawan.

3. Distribusi riwayat penyakit responden

Tabel 3. Distribusi riwayat penyakit responden di industri mebel Bapak Mugiyo

No.

Keluhan Subyektif

n

Persentase (%)

1.

Keluhan umum yang paling sering:

· Batuk

· Sesak nafas

· Gangguan kulit

· Sakit kepala

· Tidak ada keluhan

0

0

0

0

3

0

0

0

0

100

2.

Pelayanan yang dituju jika sakit:

· Ke Puskesmas / dokter

· Beli obat di warung

· Tidak diobati / dibiarkan

1

2

0

33,33

66,66

0

3.

Keluhan setelah bekerja:

· Otot-otot pegal

· Tuli

· Sesak nafas

· Nyeri kepala

3

0

0

0

100

0

0

0

Sumber: Data Primer Responden Industri Mebel Bapak Mugiyo, di Dusun Kersan, April 2004

a. Penyakit yang sering dikeluhkan

Tidak ada keluhan umum seperti batuk, sesak nafas, gangguan kulit, sakit kepala / pusing, ataupun lainnya yang dikeluhkan oleh para karyawan. Di luar pekerjaannya, 2 (66,66%) dari karyawan memilih untuk membeli obat yang bebas di jual di pasaran baru kemudian apabila tidak kunjung sembuh, mereka beralih datang ke dokter. Satu karyawan lainnya (33,33%) berinisiatif langsung datang ke puskesmas / dokter segera apabila mereka ada keluhan kesehatan. Tidak ada riwayat penyakit Diabetes Melitus ataupun hipertensi, tekanan darah terukur normal. Kesehatan sangat penting bagi karyawan karena dengan kesehatan yang bagus maka para karyawan akan mempunyai kapasitas kerja yang bagus pula.

b. Penyakit yang diakibatkan oleh kerja

Penyakit akibat kerja di industri mebel yang mungkin sering terjadi yaitu batuk, sesak nafas, penyakit jaringan ikat yaitu pegal-pegal pada punggung / pinggang, penurunan pendengaran, serta penyakit kulit dan mata. Penyakit akibat kerja yang sering dikeluhkan oleh seluruh karyawan (100%) adalah pegalnya otot-otot, sedangkan penyakit akibat kerja lainnya seperti tersebut di atas tidak begitu dirasakan / hampir tidak ada.

Banyaknya keluhan pegal-pegal otot pada para karyawan, dikarenakan konstraksi otot yang terus-menerus sehingga produksi asam laktat akan meningkat dan bila hal ini terus-menerus dilakukan tanpa istirahat maka bisa sampai menyebabkan otot ruptur. Keluhan pegal-pegal ini dapat terjadi karena kesalahan prosedur kerja, nyeri punggung dan nyeri boyok dapat terjadi karena proses duduk yang terlalu lama sehingga otot-otot yang terlibat seperti m. latisimus dorsi, m. Rhomboideus, m. erektor spinae berkonstraksi terus-menerus.

Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja tersebut sudah cocok, maka kelelahan dapat dicegah dan hasilnya akan lebih efisien. Hasil suatu proses kerja yang efisien berarti memperoleh produktivitas kerja yang tinggi. Peralatan kerja yang tidak sesuai dengan kondisi dan ukuran tubuh pekerja maka akan menjadi beban tambahan kerja.

4. Kecelakaan kerja responden

Tabel 4. Kecelakaan kerja responden di industri mebel Bapak Mugiyo

No.

Kecelakaan Kerja

n

Persentase (%)

1.

Kecelakaan dalam kerja:

· Pernah

· Belum pernah

3

0

100

0

2.

Jenis kecelakaan yang pernah dialami:

· Terpukul palu

· Mata terkena serbuk kayu

· Tertusuk paku

· Gabungan poin di atas

· Belum pernah

0

0

0

3

0

0

0

0

100

0

3.

Bentuk luka yang pernah dialami:

· Memar

· Luka iris

· Luka lecet

· Tidak ada

3

0

0

0

100

0

0

0

4.

Penyebab utama kecelakaan:

· Cara / perilaku kerja

· Lingkungan kerja

· Peralatan

· Kurangnya keahlian dalam menggunakan alat

3

0

0

0

100

0

0

0

5.

Bagian tubuh yang sering terkena:

· Anggota gerak (tangan, kaki)

· Muka/mata

· Gabungan 2 poin di atas

· Badan

· Tidak ada

0

0

3

0

0

0

0

100

0

0

Sumber: Data Primer Responden Industri Mebel Bapak Mugiyo, di Dusun Kersan, April 2004

Diketahui seratus persen pekerja setidaknya pernah mengalami kecelakaan kerja, walaupun tidak ada yang benar-benar serius. Pada umumnya kecelakaan kerja yang terjadi hanya pada poses pertukangan saja seperti terkena palu pada saat memalu, tidak sengaja tertusuk paku, ataupun matanya kemasukan serbuk kayu pada saat proses penghalusan kayu.

Jenis luka yang sering terjadi yaitu bentuk luka memar, yang seluruh pekerja (100%) setidaknya pernah mengalaminya karena tidak sengaja terpukul palunya sendiri. Bagian tubuh yang paling sering terkena tangan dan muka. Pada tangan karena anggota gerak inilah yang paling sering berkontak dengan peralatan kerja, dan pada muka biasanya dikarenakan oleh mencelatnya potongan kayu atau kemasukan serbuk kayu dan sebagainya.

Dari data di atas dapat terlihat bahwa penyebab kecelakaan kerja paling sering adalah karena perilaku kerja seperti kelalaian pekerja sendiri ataupun akibat kelelahan kerja. Kelalaian dapat disebabkan oleh karena perilaku kerja yang kadang bercanda atau berbicara dengan sesama pekerja sehingga tidak berkonsentrasi pada pekerjaaannya. Jika hal ini sering terjadi maka akan berpengaruh pula pada hasil produksi.

5. Proses produksi

Tabel 5. Proses produksi responden di industri mebel Bapak Mugiyo

No.

Jenis proses produksi

n

Persentase (%)

1.

Alat yang digunakan saat kerja:

· Hanya manual

· Hanya Listrik

· Gabungan poin di atas

0

0

3

0

0

100

Sumber: Data Primer Responden Industri Mebel Bapak Mugiyo, di Dusun Kersan, April 2004

Sebagian besar proses produksi dilakukan dengan cara manual. Proses kerja yang menggunakan peralatan listrik hanya pada saat penghalusan kayu dengan menggunakan pasah listrik, dan menggergaji kayu, selebihnya dengan cara manual.

6. Distribusi jumlah pekerja yang mempergunakan alat pelindung diri

Tabel 6. Distribusi jumlah pekerja yang mempergunakan alat pelindung diri selama bekerja di industri mebel Bapak Mugiyo

No.

Jenis pelindung

n

Persentase (%)

1.

Alat pelindung diri:

· Masker

· Tutup telinga

· Kacamata pelindung

· Sarung tangan

· Tanpa pelindung

0

0

0

0

3

0

0

0

0

100

2.

Menggunakan sandal saat kerja:

· Ya

· Kadang-kadang

· Tidak pernah

0

0

3

0

0

100

Sumber: Data Primer Responden Industri Mebel Bapak Mugiyo, di Dusun Kersan, April 2004

Pemakaian alat pelindung seperti masker, tutup telinga, sarung tangan, kaca mata pelindung, dalam bekerja sangatlah penting. Namun seluruh karyawan (100%) lebih memilih untuk tidak menggunakan satu jenispun alat pelindung selama proses pertukangan pada saat survei dilakukan. Hal ini disebabkan oleh faktor kemauan dari para karyawan. Ketika ditanyakan mereka menjawab enggan untuk memakai peralatan pelindung tadi dengan alasan risih, tidak praktis, sampai mengeluh tidak bebas dalam mengerjakan pekerjaannya.

Para karyawan juga mengaku tidak pernah memakai alas kaki, minimal sandal pada saat bekerja (100%). Mereka berdalih tidak terbiasa memakainya, kalaupun para karyawan memakai sandal atau alas kaki lainnya, hal ini dikarenakan sejak dari rumah mereka sudah memakainya dan tanpa melepasnya lagi sewaktu bekerja. Padahal apabila ditilik dari jenis pekerjaannya, alas kaki amatlah penting untuk dikenakan untuk melindungi kaki terutama telapak dan punggung kaki dari peralatan ataupun benda-benda tajam seperti paku ataupun potongan kayu tajam yang seringkali tercecer.

Kesemua karyawan yang belum menggunakan alat pelindung dalam bekerja selain karena alasan-alasan yang dikemukan tadi, hal ini juga dikarenakan faktor pengetahuan tentang resiko yang mungkin dapat terjadi apabila tidak menggunakan alat pelindung tadi yang masih sangat kurang. Maka dari itu sangat diperlukan promosi kesehatan untuk mengurangi resiko penyakit akibat kerja.

C. Lingkungan Kerja

Industri mebel Bapak Mugiyo terletak di Dusun Kersan, sejajar dengan rumah-rumah penduduk, jarak terdekat dengan rumah penduduk sekitar 1 s.d. 2 meter di kanan dan kiri, bangunan perusahaan menyatu dengan rumah pemilik.

1. Lingkungan Fisik

a. Kebersihan Tempat

Kebersihan lingkungan tempat kerja dapat dikatakan kurang. Sebagian besar dikarenakan tempat kerja industri mebel yang bertempat seluruh teras dan ruangan depan rumah. Dengan kata lain, tidak terdapat ruangan khusus tempat kegiatan industri dilakukan. Seluruh bagian rumah bagian depan dimanfaatkan sebagai tempat industri berlangsung. Seluruh teras depan sampai menjorok ke ruang garasi digunakan sebagai tempat kegiatan pertukangan utama. Halaman depan dipenuhi oleh kayu hasil potongan yang apabila tidak sedang digunakan, dijemur untuk mengurangi kandungan air sampai gilirannya tiba nantinya untuk digunakan.

Layaknya di tempat kegiatan permebelan lainnya, lantai ruangan yang terbuat dari keramik berwarna putih didominasi oleh kotoran partikel debu serbuk kayu, serpihan kayu kecil, noda-noda tinggalan bekas dempul, pelitur dan cat yang terlanjur melekat, serta peralatan pertukangan yang cenderung berserakan.

Di halaman, di bagian barat dan timur rumah terdapat gundukan serbuk-serbuk dan potongan-potongan kecil kayu. Juga tidak terdapat tempat khusus untuk meletakkannya, sehingga dari segi penataan, terkesan hanya diletakkan sembarangan.

b. Ruangan

1) Volume dan Penataan Ruang Kerja

Ruangan tempat kerja mempunyai pengaruh terhadap kenyamanan kerja. Volume ruangan di industri mebel Bapak Mugiyo antara lain sebagai berikut:

· Ruang teras depan yang digunakan sebagai bengkel industri mebel berukuran 6 x 3 x 3 m3. ruang teras ini merupakan bentuk pelataran beratap dari rumah bagian depan tanpa ada batasan pagar sehingga ruangan terasa lebih lapang dan bebas untuk digunakan bekerja, terlebih untuk industri mebel yang memerlukan luas dan volume ruang yang cukup luas.

· Ruang Garasi, sebagai sambungan ruang teras depan seperti telah dijabarkan pada poin di atas, memiliki volume ruangan kurang lebih 6 x 2,5 x 3 m3. ruangan yang aslinya diperuntukkan sebagai ruang garasi ini menyatu dengan teras depan, dan juga digunakan sebagai bengkel kerja utama industri mebel Bapak Mugiyo.

· Ruang depan rumah bagian dalam yang sekiranya aslinya dibuat sebagai ruang tamu, juga dimanfaatkan sebagai ruang pamer model mebel yang kebanyakan ½ jadi sebagai panduan bagi para pemesan yang belum memiliki gambaran akan model mebel yang akan dipesan. Ruang pamer ini berukuran cukup lega, bervolume 6 x 6 x 3 m3; dengan penerangan alami yang baik karena ditunjang oleh jendela berukuran lumayan besar dengan jumlah yang cukup banyak pula.

· Halaman / pekarangan, berukuran cukup luas, dengan ukuran luas kira-kira 8,5 x 3 m2, dengan jarak antara rumah dengan jalan kurang lebih 3 m. Halaman ini dimanfaatkan untuk meletakkan kayu-kayu jati potongan yang sedang dijemur, ataupun yang tidak, serta sebagai tempat penimbunan limbah sementara.

Dapat dilihat dari data di atas bahwa ruangan dari bangunan belum mencukupi karena di ruang bengkel industri utama dengan banyaknya alat-alat industri, ruangan menjadi terlihat penuh sesak dan mengurangi ruang gerak pekerja. Namun hal ini hanya bersifat masalah tata ruang, yang menuntut agar lokasi bengkel industri, peralatan kerja, dan mebel ½ jadi maupun yang sudah jadi agar lebih tertata, disamping agar lebih enak untuk dipandang, tetapi yang lebih penting lagi, adalah untuk kepentingan kenyamanan kerja para karyawan.

2) Ventilasi

Karena hampir seluruh kegiatan dilakukan di ruang kerja utama yang berlokasi di teras dan garasi yang tidak memiliki sekat atau dinding (semi terbuka), maka tidak terdapat masalah dalam hal sirkulasi udara. Ruang kerja yang terbuka dan menyatu langsung dengan alam serta lokasi industri yang berada di pedusunan, bukan di pusat kota memastikan pasokan udara yang cukup dan segar bagi kesehatan para karyawan. Faktor inilah yang mungkin menyebabkan tidak adanya karyawan yang mengeluh sesak nafas, seperti telah dibahas di bagian atas.

3) Suhu

Berhubung tempat bekerja dengan jabaran kondisi berlokasi di teras dan garasi rumah yang tidak bersekat, maka suhu ruangan tempat bekerja kurang lebih sama dengan suhu lingkungan. Ditambah lagi karena ruangan kerja yang berbatasan langsung dengan ruang terbuka, sehingga menyebabkan bebas masuknya angin yang dapat menyejukkan, disamping karena ditunjang oleh pepohonan dan tanaman yang lumayan

banyak tumbuh di pekarangan. Disamping itu, karena industri ini bergerak di bidang permebelan sehingga tidak terdapat atau membutuhkan adanya oven atau perangkat lainnya yang dapat menimbulkan panas. Suhu normal untuk kerja adalah 27°C s.d. 29°C sehingga pada suhu lebih dari 29°C dapat menimbulkan gangguan kerja seperti penurunan konsentrasi, dehidrasi, dan juga menurunkan daya kerja.

4) Penerangan

Penerangan di ruang kerja sudah cukup karena seluruh kegiatan pertukangan dilakukan pada saat hari masih terang, yaitu maksimal hanya sampai jam lima sore saja sehingga sebagian besar penerangan dipasok dari energi matahari. Dari sisi ekonomi, faktor ini berarti menghemat biaya dan energi listrik. Jikalaupun suasana kerja menjadi gelap, misalnya pada saat hari mendung atau hujan lebat, penerangan didukung oleh lampu neon yang memancarkan cukup cahaya untuk memastikan proses industri berjalan lancar dan aman. Keamanan disini dalam artian bahwa dengan cahaya yang cukup, maka kemungkinan karyawan untuk terluka misalnya akibat paku yang tidak sengaja tercecer atau pada saat proses penggergajian menjadi lebih kecil untuk terjadi. Dengan kata lain penerangan yang baik sangat menunjang sikap kehati-hatian para pekerja disamping juga meningkatkan ketelitian dan kecermatan perkerja pada saat menggarap pekerjaannya yang cukup membutuhkan konsentrasi.

2. Lingkungan Biologis

a. Pekerja

Seperti telah dijabarkan di bagian pekerja di atas, jumlah pekerja di industri mebel miliki Bapak Mugiyo berjumlah 3 orang, kesemuanya memiliki hubungan darah antara satu dengan lainnya sehingga industri kecil ini berbasis keluarga. Seluruh karyawan ini masing-masing memiliki keahlian yang sama dalam proses pembuatan mebel.

b. Limbah

Limbah industri untuk perusahaan ini hanya berupa limbah padat saja, yaitu potong-potongan kecil tak terpakai dan serbuk kayu sisa gergajian. Bapak Mugiyo tidak menyediakan ruangan atau tempat khusus sebagai tempat pembuangan limbah. Dua jenis limbah utama tadi hanya diletakkan di pekarangan rumah yang berfungsi sebagai tempat pembuangan sementara yang nantinya akan diambil / dibeli orang yang membutuhkannya sebagai bahan bakar untuk industri tahu maupun industri rumah tangga (home industry) lainnya.

Pencemaran udara yang terjadi lebih kepada polusi suara akibat kebisingan yang dihasilkan dari alat-alat industri, terutama pasah listrik dan gergaji berputar. Kebisingan dapat mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menyebabkan kerusakan pada indera pendengaran sampai kepada ketulian. Dari hasil penelitian terdahulu diperoleh bukti bahwa intensitas bunyi yang dikategorikan bising dan yang mempengaruhi kesehatan (pendengaran) adalah di atas 60 dB (Notoatmojo, 1997).

Namun dari hasil survei terhadap para pekerja, tidak didapatkan adanya keluhan penurunan pendengaran. Hal ini dapat berarti dua kemungkinan, bisa saja penurunan pendengaran sudah terjadi, akan tetapi para pekerja tidak begitu merasakannya. Kemungkinan kedua, bisa saja penurunan pendengaran belum atau dapat saja tidak terjadi karena beberapa faktor; antara lain karena proses penghalusan kayu yang menggunakan pasah listrik yang menghasilkan suara bising tidak hanya ditangani oleh satu orang pekerja saja, melainkan secara bergantian, tergantung pada mebel yang sedang ditanganinya. Atau bisa saja pemakaian pasah ini tidak terus menerus atau setiap waktu, karena industri ini menghasilkan mebel dengan hanya mengandalkan pesanan, sehingga apabila sedang sepi pesanan, mebel yang dikerjakanpun otomatis juga akan sedikit.

Disamping itu semua, kebisingan juga dapat mengganggu jalannya komunikasi. Jika kebisingan terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan timbulnya gangguan konsentrasi pekerja yang akibatnya dapat menyebabkan pekerja cenderung berbuat kesalahan dan akhirnya menurunkan produktivitas kerja.

3. Lingkungan Sosial

Kesejahteraan pekerja merupakan salah satu indikator dalam menilai produktivitas pekerja. Sebagai pekerja harian, pekerja memperoleh upah sebesar Rp. 25.000,00 perharinya sesuai dengan banyaknya pesanan yang masuk, sementara itu untuk waktu lembur mendapat tambahan tersendiri. Waktu kerja juga tidak mengikat, apabila pegawai menginginkan libur tetap diberikan namun upah harian tidak diberikan.

Namun yang perlu disayangkan adalah, perhatian terhadap kesejahteraan pegawai belum begitu terlihat jika diambil dari sisi tidak diberikannya tunjangan kesehatan kepada setiap pekerja apabila pekerja sakit yaitu dengan mengganti biaya pengobatan yang dikeluarkan.

Hubungan antar pekerja dengan pekerja lain terjalin dengan baik, demikian juga hubungan pekerja dengan pengusaha, lebih-lebih karena seluruh pekerja saling memiliki hubungan darah. Hal ini menjadikan suasana kerja menjadi lebih baik, yang diharapkan kenyaman kerja yang diinduksi oleh kerukunan antara para pekerja juga berpengaruh pada produktivitas kerjanya.

BAB V

ANALISA DAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

No.

Daftar masalah

Alternatif pemecahan masalah

Keuntungan

1

Lingkungan Kerja

§ Tingkat kebersihan yang dirasa kurang, dengan bercecernya sisa potongan dan serbuk kayu serta dempul yang melekat pada lantai keramik yang perlu di-sayangkan.

§ Limbah padat hasil industri hanya dibiarkan menumpuk di pekarangan.

§ Bengkel kerja utama industri dipindahkan ke tempat yang khusus disediakan untuk kegiatan industri.

§ Apabila tidak memung-kinkan untuk menyediakan tempat khusus sebagai bengkel kerja, setidaknya di-usahakan pembagian tempat pengolahan khusus yang bersekat, misalnya tempat penggergajian dan tempat penghalusan kayu masing-masing disendirikan, dan ruang gerak menjadi luas.

§ Sebaiknya untuk pembuangan atau penimbunan sementara limbah tersebut disediakan lahan kosong tersendiri.

§ Bila tidak ada lahan kosong khusus sebagai alternatif pemecahan masalah penimbunan limbah seperti poin di atas, maka setidaknya dipikirkan cara-cara penanggulangan lain-nya yang cukup sederhana, misalnya dengan menempatkan-nya dalam karung, bak, atau lubang khusus.

§ Kesehatan peker-ja tidak tergang-gu, produktivitas meningkat, keje-nuhan menurun, beban tambahan berkurang.

§ Konsentrasi kerja meningkat, dan tata ruang menjadi lebih baik.

§ Kebersihan ling-kungan semakin meningkat, kese-hatan dan kese-lamatan pekerja dari kemungkin-an tertusuk potongan kayu kecil menjadi lebih kecil. Disamping itu, dari segi tata ruang, akan menjadi lebih baik, enak dipandang, dan ruangan menjadi lebih lega.

§ Pekarangan men-jadi lebih bersih, tampak teratur, lebih luas dan memudahkan para pekerja pemungut lim-bah karena lebih praktis.

2

Pekerja

§ Para pekerja tidak ada yang memakai alat pelindung seperti masker, tutup telinga, sarung tangan, kaca mata pelindung, dalam bekerja yang sangatlah penting. Hal ini disebabkan oleh faktor kesadaran dan kemauan dari para karyawan; enggan untuk memakai peralatan pelindung tadi dengan alasan risih, tidak praktis, sampai mengeluh tidak bebas dalam mengerjakan pekerjaannya.

§ Juga tidak terdapat karyawan yang memakai alas kaki, minimal sandal pada saat bekerja. Mereka berdalih tidak terbiasa memakainya.

§ Agar selalu dianjurkan untuk memakai alat-alat pelindung selama pekerja secara terus menerus bila mengingat kepentingannya untuk kesehatan dan keselamatan kerja karyawan.

§ Kalaupun hanya dengan anjuran lisan tidak cukup, ajakan bisa dilakukan dengan jalan pencontohan pemakaian alat-alat pelindung tersebut oleh pemilik industri mebel, dengan harapan pekerja yang lain dapat me-neladaninya. Bila dengan cara halus seperti ini tidak berhasil juga, dapat digunakan taktik paksaan, misalnya dengan jalan sanksi memotong gaji karyawan yang kedapatan tidak memakai alat pelindung diri saat sedang bekerja.

§ Kurang lebih idem atas.

§ Faktor keaman-an dan keselamatan ker-ja menjadi lebih terjamin, kecela-kaan kerja dapat dikurangi, pro-duktivitas kerja meningkat.

§ Sama dengan di atas, dan dari segi psikologis pekerja merasa lebih terayomi dan diperhatikan oleh pemiliki industri ketim-bang hanya dengan anjuran lisan belaka. Tentang masalah taktik pemotong-an gaji, mungkin untuk kali pertama terasa berat dan tidak menyenangkan, tapi lama ke-lamaan apabila sudah terbiasa, akan lebih melatih rasa kedisiplinan dan kepedulian akan kesehatannya sendiri.

§ Kurang lebih idem atas.

3

Posisi Pekerja

§ Posisi kerja yang tidak benar seperti membungkuk, jong-kok, dan duduk yang terus-menerus dapat mengakibatkan pen-yakit akibat kerja

§ Membiasakan banyak bergerak dan merubah posisi bekerja

§ Otot-otot tubuh menjadi tidak monoton, lebih rileks, penyakit akibat kerja dapat dikurangi yang berarti efektivitas dan efisiensi sektor ekonomi.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Setelah dilakukan kerja kepaniteraan, tidak didapati adanya penyakit akibat kerja pada para pekerja industri mebel Bapak Mugiyo di Dusun Kersan, Desa Tirtonirmolo, Kabupaten Bantul, Yogyakrta. Kalaupun ada, hanya berupa penyakit umum berupa pegal-pegal.

B. Saran

1. Perlu lebih ditingkatkan lagi kualitas kerja dalam mengupayakan kesehatan dan keselamatan kerja yang sudah ada.

2. Penataan ruangan harus lebih diperhatikan menjadi lebih baik, supaya para karyawan lebih leluasa dalam melakukan pekerjaannya. Bengkel kerja utama industri jika memungkinkan dipindahkan ke tempat yang khusus disediakan untuk kegiatan industri, setidaknya diusahakan pembagian tempat pengolahan khusus yang bersekat dan masing-masing disendirikan sehingga ruang gerak menjadi luas.

3. Untuk menghindari sakit akibat kerja pekerja perlu melakukan olahraga yang teratur, dan setidaknya banyak bergerak dari pekerjaan yang biasa dilakukan, contoh apabila biasanya duduk sesekali berdiri dan berjalan agar gerakan dan posisi kerja para karyawan menjadi lebih bervariasi dan tidak monotonis.

4. Untuk menghindari kecelakaan akibat kerja, para pekerja perlu memakai alat pelindung seperti masker, tutup telinga, sarung tangan, kaca mata pelindung dan alas kaki, minimal sandal pada saat bekerja, supaya kesehatan dan keselamatan pekerja terjamin, yang dengan demikian akan meningkatkan kapasitas kerja.

5. Sebaiknya untuk pembuangan atau penimbunan sementara limbah disediakan lahan kosong tersendiri, atau setidaknya menempatkannya dalam karung, bak, atau lubang khusus sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan dan dari segi tata ruang pun menjadi lebih luas dan enak untuk dipandang.

6. Perusahaan (dalam hal ini industri kecil) yang belum mendapat tempat di organisasi Pukesmas maka hendaknya dimasukkan secara struktural kedalam organisasi tersebut. Sehingga industri ini akan lebih terayomi dalam hal pelayanan kesehatannya yang paripurna (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif), yang dalam hal ini ditekankan pada ruang lingkup kedokteran industrinya. Misalnya petugas kesehatan mengunjungi tempat-tempat industri secara rutin guna menilai kesehatan kerja di perusahaan-perusahaan rumah tangga.

DAFTAR PUSTAKA

Budiono, Sugeng, 1992, “Bunga Rampai Hiperkes dan KK”, Universitas Diponegoro, Semarang

Dainur.1999, “Ilmu Kesehatan Masyarakat” Widya Medika, Jakarta

Http://www.asosiasihiperkes.tripod.com/ Program Kerja Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia 1999-2002.

Http://www.karyabhakti.org/ind_tubuh_bkph_htm. Biro Konsultasi dan Pelayanan Hiperkes, 2004.

Sumakmur.1986. “Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja”, Gunung Agung, Jakarta.

Related Sites

Contoh Makalah Baik dan Benar

Contoh Makalah Baik dan Benar: Untuk cara penulisan makalah yang baik dan benar dapat dilihat dari struktur dan urutan penulisan contoh makalah di bawah ini:

Sources : http://rakhascorpion.blogspot.com/

Makalah sumber daya manusia - Upload & Share PowerPoint ...

Makalah sumber daya manusia - Upload & Share PowerPoint ...: Makalah sumber daya manusia Document Transcript. BAB I PENDAHULUAN Manusia sebagai sumber daya pada mulanya diartikan tenaga kerja manusia ditinjau secara ...

Sources : http://www.slideshare.net/septianraha/makalah-sumber-daya-manusia

Contoh Makalah

Contoh Makalah: makalah politik dan birokrasi di indonesia “reformasi birokrasi di indonesia” disusun oleh : kelompok ii edis...

Sources : http://makalahme02.blogspot.com/

Bahan Makalah PAI

Bahan Makalah PAI: Antara pendidikan dan perkembangan masyarakat terdapat interaksi timbal balik dan saling mempengaruhi. Artinya, perkembangan pendidikan akan amat bergantung pada ...

Sources : http://makalahpai.blogspot.com/

Artikel dan Makalah Pendidikan | tentang PENDIDIKAN

Artikel dan Makalah Pendidikan | tentang PENDIDIKAN: Makalah dan Artikel tentang Pendidikan Dalam blog ini disajikan berbagai tulisan seputar isu, trend, berita, opini dan teori pendidikan, dengan ruang ...

Sources : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/15/kumpulan-makalah/

Makalah hubungan beban kerja dan ergonomis Responses

Leave a Reply