contoh proposal penelitian [ thx to Aris Dewa Handayanto]




BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial (TP-KJM, 2002).
Masa remaja yang dimaksudkan merupakan periode transisi antara masa anakanak dan masa dewasa. Batasan usianya tidak ditentukan dengan jelas, sehingga banyak ahli yang berbeda dalam penentuan rentang usianya. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa masa remaja berawal dari usia 12 sampai dengan akhir usia belasan ketika pertumbuhan fisik hampir lengkap.
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.
Banyaknya permasalahan dan krisis yang terjadi pada masa remaja ini menjadikan banyak ahli dalam bidang psikologi perkembangan menyebutnya sebagai masa krisis. Pada masa ini perubahan terjadi sangat drastis dan mengakibatkan terjadinya kondisi yang serba tanggung dan diwarnai oleh kondisi psikis yang belum mantap, selain dari pada itu periode ini pun dinilai sangat penting bahkan Erik Erikson (1998) menyatakan bahwa seluruh masa depan individu sangat tergantung pada penyelesaian krisis pada masa ini.
Salah satu faktor utama penyebab stres pada remaja yaitu tuntutan akademis yang dinilai terlampau berat, hasil ujian yang buruk, tugas yang menumpuk dan lingkungan pergaulan. Selain itu, kondisi fisik atau bentuk tubuh menjadi bentuk stres yang lain. Remaja mempunyai kecenderungan untuk merespon stres berdasarkan situasi dan kondisi pada saat itu juga. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Walker (2002) pada 60 orang remaja menghasilkan bahwa penyebab utama ketegangan dan masalah yang ada pada remaja berasal dari hubungan dengan teman dan keluarga, tekanan dan lain-lain.
Dari berbagai jenis permasalahan yang dialami remaja itu cara mereka dalam menyelesaikan masalah pun beragam. Namun ada pula sebagian dari remaja itu tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya, padahal masalah itu mereka sendiri yang menyebabkan. Pada remaja seperti inilah yang banyak mengalami stress. Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi , seseorang atau suatu obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya. Stressor sangat bervariasi bentuk dan macamnya, mulai dari sumber-sumber psikososial dan perilaku seperti frustrasi, cemas dan kelebihan sumber-sumber bioekologi dan fisik seperti bising, polusi, temperatur dan gizi (Michale, 1991).
Cara mereka untuk mengatasi stress yang mereka rasakan pun berbeda-beda. Ada yang berusaha mengatasi stres dengan melakukan hal-hal positif, dan ada pula yang mengatasinya dengan hal-hal yang mengarah pada perilaku berisiko. Untuk itu diperlukan adanya suatu respon terhadap stress yang timbul yang biasa disebut dengan Coping stress. Coping stress merupakan reaksi terhadap tekanan yang berfungsi memecahkan, mengurangi dan menggantikan kondisi yang penuh tekanan (Hapsari, dkk, 2002).
Dewasa ini proses coping terhadap suatu permasalahan yang dihadapi individu menjadi pedoman untuk mengerti reaksi stress. Umumnya coping stress terjadi secara otomatis begitu individu merasakan adanya situasi yang menekan atau mengancam, maka individu dituntut untuk sesegera mungkin mengatasi ketegangan yang ialaminya. Individu akan melakukan evaluasi untuk seterusnya memutuskan perilaku coping stress apa yang seharusnya ditampilkan.Pentingnya strategi coping dalam menurunkan dan menghilangkan tingkat stress pada remaja menjadi motivasi dalam penelitian ini. Bertitik tolak dari hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Perbedaan Tingkat Stress Dan Coping Stress Antara Remaja Pelajar SMA Dan SMK (Suatu Studi Pada 4(Empat) SMA Dan SMK Di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas)”.

B.Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka permasalahan yang peneliti ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Bagaimana gambaran stres dan coping stres yang terjadi pada remaja pelajar SMA dan SMK di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas?
2.Mengapa remaja pelajar SMA dan SMK memiliki stres dan melakukan coping stres yang demikian?
3.Bagaimana proses perkembangan stres dan coping stres pada remaja pelajar SMA dan SMK di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas?
4.Adakah perbedaan antara tingkat stress dan coping stress yang dilakukan antara remaja pelajar SMA dan SMK di Keccamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas?

C.Tujuan
1.Umum
Mendapatkan informasi yang mendalam tentang stress dan coping stress pada remaja pelajar SMA/SMK.

2.Khusus
a.Mengetahui gambaran stres dan coping stres yang terjadi pada remaja pelajar SMA/SMK di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
b.Mengetahui penyebab stress pada remaja pelajar SMA/SMK dn cara mereka melakukan coping stress.
c.Mengetahui proses perkembangan stres dan coping stres pada remaja pelajar SMA/SMK di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
d.Mengatahui perbedaan antara tingkat stress dan coping stress yang dilakukan antara remaja pelajar SMA dan SMK di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.

D.Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan tersebut diatas maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.Manfaat teoritis
Untuk kajian ilmiah tentang stress dan coping stress pada remaja pelajar SMA dan SMK di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
2.Manfaat praktis
a.Bagi Masyarakat
Menambah informasi masyarakat mengenai faktor-faktor penyebab remaja menjadi stress. Khususnya, bagi para orang tua, penelitian ini bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran untuk selalu memantau pertumbuhan anak baik secara fisik ataupun psikologi, agar kondisi stress pada anak dapat terhindar.
b.Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed
Memberikan tambahan pustaka Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed dengan informasi mengenai stress dan coping stress pada remaja pelajar SMA dan SMK.
c.Bagi Peneliti
a.Meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam menggali informasi sedalam-dalamnya tentang ilmu perilaku kesehatan khususnya yang berkaitan dengan stress dan coping stress pada remaja.
b.Belajar mengaplikasikan teori yang diperoleh di perkuliahan.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA

A.Remaja
1.Pengertian Remaja
Piaget (dalam Hurlock, 1999) mengatakan bahwa secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
Menurut Monks (1999), remaja adalah individu yang berusia antara 12-21 tahun yang sedang mengalami masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, dengan pembagian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan dan 18-21 tahun masa remaja akhir.
Hurlock (1999) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dimulai saat anak secara seksual matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara hukum.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa remaja adalah individu yang berusia 12-21 tahun yang sedang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
2.Ciri-ciri Masa Remaja
Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1999) ciri-ciri masa remaja antara lain:
a.Masa remaja sebagai periode yang penting
Remaja mengalami perkembangan fisik dan mental yang cepat dan penting dimana semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan pembentukan sikap, nilai, dan minat baru.
b.Masa remaja sebagai periode peralihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Tetapi peralihan merupakan perpindahan dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya, dengan demikian dapat diartikan bahwa apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang, serta mempengaruhi pola perilaku dan sikap yang baru pada tahap berikutnya.
c.Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Perubahan fisik yang terjadi dengan pesat diikuti dengan perubahan perubahan perilaku dan sikap yang juga berlangsung pesat. Perubahan fisik menurun, maka perubahan sikap dan perilaku juga menurun.
d.Masa remaja sebagai usia bermasalah
Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maiupun anak perempuan. Ada dua alasan bagi kesulitan ini, yaitu:
1)Sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah.
2)Remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru.
e.Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Pencarian identitas dimulai pada akhir masa kanak-kanak, penyesuaian diri dengan standar kelompok lebih penting daripada bersikap individualitas. Penyesuaian diri dengan kelompok pada remaja awal masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan, namun lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dengan kata lain ingin menjadi pribadi yang berbeda dengan orang lain.
f.Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Anggapan stereotype budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak dan berperilaku merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
g.Masa remaja sebagai masa yang tidak
Remaja pada masa ini melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Semakin tidak realistik cita-citanya ia semakin menjadi marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri.
h.Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
Semakin mendekatnya usia kematangan, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan member citra yang mereka inginkan.

B.SMA dan SMK
Sekolah Menengah Atas (disingkat SMA; Inggris:Senior High School), adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat). Sekolah menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Pada tahun kedua (yakni kelas 11), siswa SMA dapat memilih salah satu dari 3 jurusan yang ada, yaitu Sains, Sosial, dan Bahasa. Pada akhir tahun ketiga (yakni kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja (www.wikipedia.com).
Pelajar SMA umumnya berusia 16-18 tahun. SMA tidak termasuk program wajib belajar pemerintah – yakni SD (atau sederajat) 6 tahun dan SMP (atau sederajat) 3 tahun – maskipun sejak tahun 2005 telah mulai diberlakukan program wajib belajar 12 tahun yang mengikut sertakan SMA di beberapa daerah, contohnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. SMA diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan SMA negeri di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, SMA negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota (www.wikipeedia.com).
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP/MTs. SMK sering disebut juga STM (Sekolah Teknik Menengah). Di SMK,terdapat banyak sekali Program Keahlian (www.wikipeedia.com).

C.Stres
1.Pengertian Stres
Stress menurut transactional model dari Lazarus dan Folkman (1984) adalah tergantung secara penuh pada persepsi individu terhadap situasi yang berpotensi mengancam. Penilaian individu terhadap sumber daya yang dimilikinya menentukan bagaimana individumemandang sebuah situasi spesifik sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan atau ancaman yang berbahaya. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bagaimana individu mempersepsikan situasi yag dihadapinya menentukan bagaimana respon yang dimunculkan individu.
Lazarus dan Folkman (1984) juga mendiskripsikan stress sebagai segala peristiwa/ kejadian baik berupa tuntutan-tuntutan lingkungan maupun tuntutan-tuntutan internal(fisiologis/psikologis) yang menuntut, membebani, atau melebihi kapasitas sumber daya adaptif individu. Dari definisi di atas dapat disimpulkan stress merupakan keadaan dan tuntutan yang melebihi kemampuan dan sumber daya adaptif individu untuk mengatasinya. Sehingga tuntutan dan keadaan (stressor) tersebut menimbulkan ketegangan baik secara fisik maupun psikis. Stress juga dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses yang meliputi stimulasi, kejadian, peristiwa, respon, interpretasi individu yang menyebabkan timbulnya ketegangan di luar kemampuan individu untuk mengatasinya (Rice,1994). Dari definisi ini dapat dilihat bahwa stress mencakup dua hal yang saling berkaitan yaitu stimulasi, peristiwa, kondisi, kejadian yang menimbulkan ketegangan yang biasaanya disebut sebagai stressor, dan kedua merupakan respon.
Menurut Selye (Bell, 1996) stress diawali dengan reaksi waspada (alarm reaction) terhadap adanya ancaman, yang ditandai oleh proses tubuh secara otomatis, seperti : meningkatnya denyut jantung, yang kemudian diikuti dengan reaksi penolakan terhadap stressor dan akan mencapai tahap kehabisan tenaga (exhaustion) jika individu merasa tidak mampu untuk terus bertahan.
Lazarus (1984) menjelaskan bahwa stress juga dapat diartikan sebagai:
1)Stimulus, yaitu stress merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stress atau disebut juga dengan stressor.
2)Respon, yaitu stress merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stress. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung.
3)Proses, yaitu stress digambarkan sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stress melalui strategi tingkah laku, kognisi maupun afeksi.
Berdasarkan berbagai definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa stress adalah keadaan yang disebabkan oleh adanya tuntutan internal maupun eksternal (stimulus) yang dapat membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu sehingga individu akan bereaksi baik secara fisiologis maupun secara psikologis (respon) dan melakukan usaha-usaha penyesuaian diri terhadap situasi tersebut (proses).

2.Macam Stres
Selye (dalam Rice, 1992) membedakan stress menjadi dua macam. Penggolongan ini didasarkan atas persepsi individu terhadap stress yang dialaminya:
1)Distress (stres negatif)
Selye menyebutkan distress merupakan respon terhadap kejadian-kejadian negatif seperti kematian anak, istri, di PHK dari pekerjaan, termasuk di dalamnya jika orang tua memiliki anak yang menderita autism yang juga merupakan cobaan berat. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir, atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan psikologis yang negative, menyakitkan, dan timbul keinginan untuk menghindarinya.
2)Eustress (stres positif)
Selye menyebutkan bahwa eustress bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang memuaskan. Menurut Selye, eustress merupakan respon terhadap kejadian-kejadian positif, seperti mendapatkan undangan pembicara, mendapatkan kenaikan jabatan, dan sebagainya. Hanson (dalam Rice, 1992) mengemukakan frase joy of stress untuk mengeungkapkan hal-hal yang bersifat positif timbul dari adanya performansi individu. Eustress juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu, misalnya untuk menciptakan karya seni.
3.Stresor
Menurut Lazarus & Folkmasn (dalam Morgan, 1989) kondisi fisik, lingkungan dan social yang merupakan penyebab dari kondisi stress disebut dengan stressor. Lazarus & Cohen (dalam Beryy, 1998) mengklasifikasikan stressor ke dalam tiga kategori, yaitu:
1)Catacysmic events
Fenomena besar atau tiba-tiba terjadi, kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi banyak orang, seperti bencana alam.
2)Personal stressor
Kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi sedikit orang atau sejumlah orang tertentu, seperti krisis keluarga.
3)Background stressor
Pertikaian atau permasalahan yang biasa terjadi setiap hari, seperti masalah dalam pekerjaan dan rutinitas pekerjaan.

Ada beberapa sumber-sumber yang dapat mencetuskan timbulnya stres, yaitu :
1.Tekanan
Tekanan dapat datang dari dalam, seperti cita-cita yang terlalu tinggi yang kita tetapkan untuk diri pribadi. Sedangkan tekanan dari luar dapat datang dari tuntutan orang tua atau orang-orang di sekitar kita (Maramis, 1998). Semakin besar tekanan yang dirasakan semakin besar kemungkinan ia menderita stres.
2.Krisis
Krisis adalah keadaan yang mendadak menimbulkan stres pada seseorang atau sekelompok orang, seperti kematian, masuk sekolah pertama kali, namun tidak semua orang yang mengalami peristiwa-peristiwa di atas akan mengalami stres karena tiap orang mempunyai tingkat adaptasi yang berbeda (Maramis, 1998).
3.Frustasi
Frustasi dapat timbul apabila ada hal yang menghalangi kita dengan tujuan yang ingin kita raih, hal-hal ini dapat berasal dari dalam seperti cacat badaniah, sedangkan faktor luar dapat berupa kemalangan (Maramis, 1998). Apabila seseorang sudah merasa frustasi maka dapat mencetuskan terjadinya stres.
4.Konflik
Konflik dapat timbul jika kita dihadapkan kepada dua pilihan sehingga kita menjadi bingung dan pusing untuk menentukan pilihan dan membuat kita menjadi stres (Maramis, 1998).
5.Kepribadian
Semakin lentur kepribadian seseorang dan semakin tinggi harapan seseorang akan hidup (optimis), semakin jauh dari stres dan semakin ringan stres baginya (Darmono, 1985).
6.Kesehatan
Semakin sehat seseorang semakin jarang ia terkena stres, dan sebaliknya stres dan sakit raga merupakan dua kejadian yang saling memberatkan. Semakin sakit maka akan semakin stres, semakin stres maka akan semakin parah sakitnya, dan begitupun sebaliknya (Darmono, 1985).
7.Kebutuhan biologik Misalnya kurang istirahat, beban kerja yang berlebihan (Soewadi, 1987).
8.Kebutuhan aktualisasi diri dan rasa dihargai
Misalnya kurangnya kesempatan dan sarana mengembangkan diri atau kurangnya penghargaan atas prestasi yang telah dicapai (Soewadi, 1987).
9.Toleransi
Kemampuan seseorang dalam mensikapi hal-hal yang dapat menimbulkan stres ikut berperan dalam menentukan tingkah laku penyesuaian individu dalam menghadapi stres (Carson dan Butcher, 1992).
10.Peristiwa traumatik
Sumber stres paling jelas adalah peristiwa traumatik yang merupakan situasi bahaya yang berada di luar rentang pengalaman manusia yang lazim, misalnya bencana alam dan kecelakaan (Atkinson et al, 1991).
11. Peristiwa yang tidak dapat dikendalikan
Semakin suatu peristiwa tidak dapat dikendalikan, semakin besar kemungkinan dianggap stres, contohnya adalah kematian orang yang dicintai, dan pemecatan (Atkinson, et al, 1991).
12.Menentang batas manusia
Beberapa kondisi dapat diprediksi dan dikendalikan, tetapi masih dialami sebagai peristiwa yang menimbulkan stres karena dapat memaksa kita sampai batas kemampuan dan pandangan terhadap diri sendiri, misalnya hari hari ujian akhir (Atkinson, et al, 1991).

Berdasarkan pengertian stressor di atas, dapat disimpulkan kondisi fisik, lingkungan dan social yang merupakan penyebab dari kondisi stress.

D.Strategi Coping Stress
Strategi coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan perkataan lain strategi coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Jenis Strategi Coping menurut para ahli ada 2 jenis strategi coping, yaitu:
1.problem-solving focused coping, dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stress.
2.emotion-focused coping, dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan.
Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari (Lazarus & Folkman, 1984).
Faktor yang menentukan strategi mana yang paling banyak atau sering digunakan sangat tergantung pada kepribadian seseorang dan sejauh mana tingkat stres dari suatu kondisi atau masalah yang dialaminya. Contoh: Seseorang cenderung menggunakan problem-solving focused coping dalam menghadapai masalah-masalah yang menurutnya bisa dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan sekolah atau pekerjaan; sebaliknya ia akan cenderung menggunakan strategi emotion-focused coping ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang menurutnya sulit dikontrol seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tergolong berat seperti kanker atau Aids.
Hampir senada dengan penggolongan jenis coping seperti dikemukakan di atas, dalam literatur tentang coping juga dikenal dua strategi coping, yaitu active & avoidant coping strategi (Lazarus mengkategorikan menjadi Direct Action & Palliative).
1.Active coping merupakan strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stres, sementara
2.Avoidant coping merupakan strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stres dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stres. Apa yang dilakukan individu pada avoidant coping strategi sebenarnya merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang sebenarnya dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu karena cepat atau lambat permasalahan yang ada haruslah diselesaikan oleh yang bersangkutan. Permasalahan akan semakin menjadi lebih rumit jika mekanisme pertahanan diri tersebut justru menuntut kebutuhan energi dan menambah kepekaan terhadap ancaman.

E.Tahapan Stress
Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. an Amberg (1979) dalam penelitiannya terdapat dalam Hawari (2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :
a.Stres tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: 1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting); 2) Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya; 3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.
b.Stres tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut: 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar; 2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang; 3) Lekas merasa capai menjelang sore hari; 4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort); 5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar); 6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang; 7) Tidak bisa santai.
c.Stres Tahap III
Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu: 1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag”(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare); 2) Ketegangan otot-otot semakin terasa; 3) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat; 4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia); 5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.
d.Stres Tahap IV
Gejala stres tahap IV, akan muncul: 1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit; 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit; 3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate); 4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari; 5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan; 6) Daya konsentrasi daya ingat menurun; 7) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.
e.Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: 1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion); 2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; 3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder); 4) Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.
f.Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut: 1) Debaran jantung teramat keras; 2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap); 3) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran; 4) Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan; 5) Pingsan atau kolaps (collapse).

Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.
BAB III
METODE PENELITIAN

A.Kerangka Pikir

Gambar 3.1. Kerangka Pikir

B.Jenis Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada seperti wawancara mendalam dan pemanfaatan dokumen (Denzin dan Lincoln, 1987 dalam Moleong LJ, 2007). Strauss (2003) menyatakan bahwa metode kualitatif dapat pula memberikan rincian yang kompleks tentang fenomena yang sulit diungkapkan oleh metode kuantitatif.

C.Subjek Penelitian
Informan utama dalam penelitian ini adalah siswa/siswi dari 4 (empat) SMA dan SMK di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas, yakni sebanyak 24 orang. Informan pendukung untuk memperkaya informasi yang diperoleh dari informan utama adalah orang tua siswa, guru, serta masyarakat umum, dengan jumlah masing-masing satu orang, sehingga jumlah informan pendukung dalam penelitian ini sebanyak tiga orang.
Pemilihan subjek penelitian tersebut dilakukan dengan teknik Multi Stages Random Sampling yang meliputi beberapa tahap, yaitu: tahap pertama memilih empat SM dan SMK secara acak dari daftar SMA dan SMK yang ada pada Kantor Wilayah Pendidikan Dan Kebudayaan di lokasi penelitian. Tahap kedua memilih jumlah subjek penelitian pada masing-masing SMA dan SMK terpilih secara proporsional berdasarkan jumlah murid, dan tahap terakhir memilih subjek penelitiian secara Systematic Random Sampling dari buku induk pelajar yang ada di masing-masing sekolah. Selanjutnya, jika dalam proses pengumpulan data sudah tidak lagi ditemukan variasi informasi, maka peneliti tidak perlu lagi mencari informan baru, proses pengambilan informasi dianggap sudah selesai. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sampel (Bungin, 2007).

D.Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah wilayah Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. Pemilihan lokasi penelitian di Kecamatan Sokaraja dengan pertimbangan bahwa di wilayah Kecamatan Sokaraja peneliti dapat lebih mengamati perilaku Remaja Pelajar SMA dan SMK sebagai informan utama., dan guru serta masyarakat umum sebagai informan pendukung.

E.Sumber Data
Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung ketika peneliti terjun di lapangan. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara mendalam yang dilakukan terhadap subjek penelitian (informan), baik dengan informan utama maupun dengan informan pendukung. Wawancara dengan para informan menggunakanpertanyaan dengan topic yang sama, sehingga diperoleh informasi yang lengkap dan saling berkaitan.

2.Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dengan cara menelaah dokumen seperti buku, artikel-artikel, hasil seminar atau lokakarya, dan sumber-sumber lain tentang stress dan coping stress adaa remaja, dimana data sekunder ini dapat mendukung data primer. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku dan artikel-artikel dan makalah tentang stress dan permasalahan pada renaja.

F.Cara Pengumpulan Data
1.Wawancara Mendalam (in depth interview)
Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam (in depth interview), sebagai realitas simbolis yang merupakan salah satu teknik pengumpulan data kualitatif, dimana wawancara dilakukan antara subjek penelitian dengan pewawancara yang terampil, yang ditandai dengan pengggalian yang medalam dan menggunakan pertanyaan yang terbuka (Kresno, 2000). Agar wawancara berjalan dengan lancer, maka disusun pedoman wawancara (interview guide), yakni seperangkat catatan yang memuat daftar dari pokok-pokok masalah untuk ditanyakan sehubungan dengan topic pembicaraan tentang stress dan coping stress pada remaja. Peneliti dalam wawancara mendalam bertindak sebagai pewawancara dan wawancara mendalam ini akan dilakukan kepada responden, orang tua responden, guru, dan masyarakat.

2.Observasi
Observasi merupakan realitas empiris yang dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan dan peristiwa yang terjadi pada saat penelitian sedang berlangsung dan informan mengetahui bahwa dirinya sedang diwawancara. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah peneliti mengamati perilaku dan kondisi lingkungan yang ada di lokasi penelitian, dimana perilaku dan lokasi lingkungan tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengumpulan data. Observasi yang dilakukan oleh peneliti antara lain adalah perilaku dan antusias para informan saat wawancara berlangsung.
3.Analisis Dokumen
Analisis dokumen dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber yang berasal dari buku, artikel, dan arsip-arsip yang lain untuk mendukung data-data yang diperoleh secara langsung di lapangan (data primer). Analisis dokumen dalam penelitian ini diperoleh dari buku-buku dan artikel-artikel tentang stress, coping stress serta perilaku remaja.

G.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:
1.Peneliti sebagai instrumen pokok
Peneliti merupakan segalanya dalam keseluruhan proses penelitian. Dalam proses penelitian peran peneliti tidak boleh digantikan dengan orang lain. Pelaksanaan wawancara mendalam dilakukan oleh peneliti sendiri. Peneliti dalam hal ini merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, dan pada akhirnya peneliti melaporkan hasil penelitiannya (Moleong, 2006).
2.Pedoman wawancara
Pedoman wawancara merupakan acuan yang digunakan oleh peneliti pada saat melakukan wawancara dengan para informan agar informasi yang didapatkan sesuai dengan tujuan penelitian.
3.Alat perekam suara
Alat perekam suara merupakan alat yang digunakan untuk merekan suara pada saat wawancara berlangsung antara peneliti dengan informan, sehingga setiap detail isi wawancara bisa terdokumentasi dengan baik.

H.Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis data secara kualitatif, dimana dalam menggunakan metode ini dilakukan proses berpikir secara induktif, yakni dalam pengambilan kesimpulan bertitik tolak dari data yang terkumpul. Proses berpikir induktif dimulai dari keputusan-keputusan khusus dari data yang terkumpul, kemudian diambil kesimpulan secara umum (Notoatmodjo, 2005). Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data secara interaktif sebagaimana yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2008) mengemukakan bahwa analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data kualitatif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Menurut Miles dan Huberman (1992), analisis terdiri dari tiga akur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu:
1.Reduksi data
Reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan,dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis dari lapangan. Reduksi data adalah bagian dari analisis data yang merupakan suatu bentuk analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal yang tidak penting, dan mengatur data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat dilakukan. Penyajian data merupakan suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dapat dilakukan (Sutopo, 1988). Reduksi data berlangsung terus menerus selama proyek yang berorientasi kulaitatif berlangsung. Sebelum data benar-benar terkumpul, antisipasi akan adanya reduksi data sudah tampak waktu peneliti memutuskan kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian dan pendekatan pengumpulan data yang mana yang dipilih. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, menulis memo). Reduksi data atau proses transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun.
2.Penyajian Data
Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis adalah penyajian data. Penyajian sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data yang akan member pemahaman apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan, lebih jauh menganalisi atau mengambil tindakan berdasarkan pemahaman yang didapat dari penyajian data tersebut. Agar data menjadi lebih menarik, penyajian data dapat menggunakan kuotasi langsung, flow chart dan grafik sesuai dengan penyajian kualitatif.
3.Kesimpulan atau Verifikasi
Penarikan kesimpulan hanya sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan juga diverifikasi selama kegiatan penelitian berlangsung. Penarikan kesimpulan dapat dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan telah ada dengan memperhatikan hasil wawancara dan analisis dokumen berupa data-data awal yang belum siap digunakan dalam analisis, setelah data tersebut direduksi dan disajikan. Proses analisis interaktif ini untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:


Gambar 3.2 Model Analisi Interaktif
Sumber: Miller dan Hubberman, 1992: 20.

Analisis data yang dilakukan adalah :
1.Mengumpulkan data dari hasil wawancara dan observasi
2.Membaca data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data
3.Mendeskripsikan fenomena yang ditemukan dan m,elakukan reduksi data
4.Melakukan Validitas hasil deskrisi dari tiap-tiap responden
5.Melakukan pengolahan data
6.Data yang diperoleh yang telah diolah kemudian disajikan dan ditarik kesimpulannya

I.Validitas Data
Dalam penelitian kualitatif kriteria utama terhadap hasil penelitian adalah kevalidan data. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oeh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.
Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi, yaitu suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2006).

DAFTAR PUSTAKA

Berry, L.M. 1998. Psycology At Work: Anintroduction To Organization Psycology 2nd Ed. New York: Mc-Graw Hill
Crain, William. 1992. Theories of Development : Concept and Applications, Third Edition. New Jersey :Prentice-Hall, Inc.
Hawari, D. 2001. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta. Balai Penerbit FKUI
http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_menengah_atas diakses tanggal 17 Juni 2010
Hurlock, Elizabeth, B. 1990. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, edisi kelima. Terjemahan Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta.
————————–. 1998. Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo & Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga.
————————–. 1999. Psikologi Perkembangan: “ Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan” (Terjemahan Istiwidayanti & Soedjarno). Jakarta: Penerbit Erlangga
Lazarus, R., & Folkman, S. 1984. Stress, Appraisal, And Coping. New York: Springer
Miles, Malcolm, et.al.1992. The City Cultures Reader. Routledge, London.
Moleong, Lexy. J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Rosda Karya. Bandung.
Monks,FJ & Knoers, AMP, Haditono.1999. Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, (Terjemahan siti Rahayu Haditono). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Morgan, C.T. King, R.A. Weisz, J.R. & Schopler, J. 1989. Introduction to Psycology (7th Ed). Singapore: McGraw-Hill
Rice, L. Phillipe. 1992. Stress & Health 2nd Ed. California: Brooks/Cole Publishing Company
Walker, J. 2002. Teens in Distress Series Adolescent Stress and Depression. http://www.extension.umm.edu/distribution/youthdevelopment/DA3083.html

Related Sites

Items where Subject is "R Medicine > RA Public aspects of ...

Items where Subject is "R Medicine > RA Public aspects of ...: abrory , imam abrory (2004) efikasi insektisida berbahan aktif malathion dan alfacypermethrin terhadap kematian nyamuk anopheles aconitusyang diaplikasikan pada lampu ...

Sources : http://eprints.undip.ac.id/view/subjects/RA0421.html

Download Skrispsi - Tesis - PTK - KTI: Kumpulan Referensi ...

Download Skrispsi - Tesis - PTK - KTI: Kumpulan Referensi ...: WINDAWATI, ADIANA (2002) PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN PSEKOTROPIKA DI KALANGAN ANAK-ANAK. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas ...

Sources : http://skripsi-tesis-ptk-kti-gratis.blogspot.com/2011/10/kumpulan-referensi-skripsi-tesis-bag-4.html

ISLAMUNA: KUMPULAN DISERTASI DAN THESIS SEINDONESIA

ISLAMUNA: KUMPULAN DISERTASI DAN THESIS SEINDONESIA: KUMPULAN DISERTASI DAN THESIS SEINDONESIA Akses 02 Desember 2008 Sumber akses: http://ern.pendis.depag.go.id/cfm/index.cfm?fuseaction=TesisDisertasi1&Hal=2 ...

Sources : http://islamuna-adib.blogspot.com/2010/03/kumpulan-disertasi-dan-thesis.html

Perbedaan Tingkat Stress Dan Coping Stress Antara Remaja Pelajar SMA Dan SMK (Suatu Studi Pada 4 SMA Dan SMK Di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas Responses

Leave a Reply