BAB I
PENDAHULUAN

Pestisida ini telah digunakan dalam berbagai bidang kehidupan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu di bidang-bidang pertanian, kehutanan, perikanan, perindustrian, rumah tangga, gedung-gedung, transportasi, pariwisata, dokumentasi, kesehatan masyarakat dan lain-lain (Munaf, 1997). Penggunaan pestisida secara berlebihan dan tidak terkendali seringkali memberikan risiko keracunan pestisida bagi penggunanya. Risiko keracunan pestisida ini terjadi karena penggunaan pestisida pada lahan pertanian. Penggunaan pestisida dengan dosis besar dan dilakukan secara terus-menerus akan menimbulkan beberapa kerugian, antara lain residu pestisida akan terakumulasi pada produk-produk pertanian, pencemaran pada lingkungan pertanian, penurunan produktivitas, keracunan pada hewan, keracunan pada manusia yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Manusia akan mengalami keracunan baik akut maupun kronis yang berdampak pada kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun terjadi 1-5 juta kasus keracunan pestisida pada pekerja pertanian dengan tingkat kematian mencapai 220.000 korban jiwa. Sekitar 80% keracunan dilaporkan terjadi di negara-negara sedang berkembang (Runia, 2008). Berbagai masalah yang timbul seperti keracunan dan pencemaran yang semkain meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan pestisida. Pemerintah telah berusaha mengantisipasi berbagai kemungkinan yang mungkin timbul, yakni dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida. Terdapat 500 formulasi pestisida yang telah didaftarkan dan mendapat izin dari Menteri Pertanian, 13 diantaranya tergolong dalam pestisida terbatas (relatif sangat berbahaya). Import pestisida mencapai 3.000 ton/tahun, sedangkan kapasitas produksi 16 formulator pestisida yang ada di Indonesia adalah 27.000 ton/tahun. Penggunaan pestisida terbesar adalah di sector pertanian, yakni 55% dari penyedian pestisida (Munaf, 1997).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Formulasi Pestisida
Menurut Butarbutar (2009), pestisida dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan perlu diformulasikan dahulu. Formulasi pestisida merupakan pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat-sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Pestisida yang dijual telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya pemakai tinggal mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam manual. Menurut Munaf (1997), yang dimaksud dengan formulasi (formulated product), ialah komposisi dan bentuk pestisida yang dipasarkan. Pestisida yang terdapat dipasaran umumnya tidaklah merupakan bahan aktif 100%, karena selain zat pengisi atau bahan tambahan yang tidak aktif 100%, karena selain zat pengisi atau bahan tambahn yang tidak aktif (inert ingridient) juga da yang berisi campuran dari 2 atau lebih pestisida.
Menurut Djojosumarto dalam Runia (2008), produk jadi yang merupakan campuran fisik antara bahan aktif dan bahan tambahan yang tidak aktif dinamakan formulasi. Formulasi sangat menentukan bagaimana pestisida dengan bentuk dan komposisi tertentu harus digunakan, berapa dosis atau takaran yang harus digunakan, berapa frekuensi dan interval penggunaan, serta terhadap jasad sasaran apa pestisida dengan formulasi tersebut dapat digunakan secara efektif. Selain itu, formulasi pestisida juga menentukan aspek keamanan penggunaan pestisida dibuat dan diedarkan dalam banyak macam formulasi, sebagai berikut:
1. Formulasi Padat
a. Wettable Powder (WP), merupakan sediaan bentuk tepung (ukuran partikel beberapa mikron) dengan kadar bahan aktif relatif tinggi (50-80%), yang jika dicampur dengan air akan membentuk suspensi. Pengaplikasian WP dengan cara disemprotkan. Contohnya: Basimen 235.

b. Soluble Powder (SP), merupakan formulasi berbentuk tepung yang jika dicampur air akan membentuk larutan homogen. Digunakan dengan cara disemprotkan. Contohnya Dowpon M.

c. Butiran atau Granule (G), umumnya merupakan sediaan siap pakai dengan konsentrasi bahan aktif rendah (sekitar 2%). Ukuran butiran bervariasi antara 0,7-1 mm. Pestisida dicampur degan bahan pembawa, seperti tanah liat, pasir, tongkol jagung yang ditumbuk. Pestisida butiran umumnya digunakan dengan cara ditaburkan di lapangan (baik secara manual maupun dengan mesin penabur). Contoh: Lannate 2 D.

d. Water Dispersible Granule (WG atau WDG), berbentuk butiran tetapi penggunaannya sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan terlebih dahulu dengan air dan digunakan dengan cara disemprotkan.

e. Soluble Granule (SG), mirip dengan WDG yang juga harus diencerkan dalam air dan digunakan dengan cara disemprotkan. Bedanya, jika dicampur dengan air, SG akan membentuk larutan sempurna.

f. Tepung Hembus, merupakan sediaan siap pakai (tidak perlu dicampur dengan air) berbentuk tepung (ukuran partikel 10-30 mikron) dengan konsentrasi bahan aktif rendah (2%) digunakan dengan cara dihembuskan (dusting).
g. Pekatan debu atau Dust concentrate. Kadarnya biasnya antara 25-75%.

h. Umpan atau Bait (B). Bahan aktif pestisida dicampurkan dengan bahan pembawa. Biasa terdapat dalam bentuk bubuk, pasta, dan butiran. Penggunaannya dicampurkan dengan bahan makanan yang disukai hewan sasaran. Contoh: Zink Fosfit (umpan bubuk), Klerat RM.

i. Tablet, terdapat dalam 2 bentuk:
1) Tablet yang bila terkena udara akan menguap menjadi fumigant, yang umumnya digunakan untuk gudang-gundang atau perpustakaan. Contoh: Phostoxin tablet.
2) Tablet yang pada pengunaannya memerlukan pemanasan. Uap dari hasil pemanasan dapat membunuh atau mengusir hama (nyamuk). Contoh: Fumakkila.
j. Padat lingkar. Biasa digunakan dengan membakar. Contoh: obat nyamuk bakar Moon Deer 0,2 MC.
2. Formulasi Cair
a. Emulsifiable Concentrate atau Emulsible Concentrate (EC), merupakan sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan kandungan bahan aktif yang cukup tinggi. Oleh karena menggunakan solvent berbasis minyak, konsentrat ini jika dicampur dengan air akan membentuk emulsi (butiran benda cair yang melayang dalam media cair lainnya). Bersama formulasi WP, formulasi EC merupakan formulasi klasik yang paling banyak digunakan saat ini. Menurut Butarbutar (2009), EC (emulsible atau emulsifiable concentrates) adalah larutan pekat pestisida yang diberi emulsifier (bahan pengemulsi) untuk memudahkan penyampurannya yaitu agar terjadi suspensi dari butiran-butiran kecil minyak dalam air. Suspensi minyak dalam air ini merupakan emulsi. Bahan pengemulsi adalah sejenis detergen (sabun) yang menyebabkan penyebaran butir-butir kecil minyak secara menyeluruh dalam air pengencer. Secara tradisional insektisida digunakan dengan cara penyemprotan bahan racun yang diencerkan dalam air, minyak, suspensi air, dusting, dan butiran. Penyemprotan merupakan cara yang paling umum, mencakup 75% dari seluruh pemakaian insektisida, yang sebagian besar berasal dari formulasi Emulsible Concentrates. Bila partikel air diencerkan dalam minyak (kebalikan dari emulsi) maka hal ini disebut emulsi invert. EC yang telah diencerkan dan diaduk hendaknya tidak mengandung gumpalan atau endapan setelah 24 jam. Contoh: grothion 50 EC, Basudin 60 EC
b. Water Soluble Concentrate (WCS), merupakan formulasi yang mirip dengan EC, tetapi karena menggunakan sistem solvent berbasis air maka konsentrat ini jika dicampur air tidak membentuk emulsi, melainkan akan membentuk larutan homogen. Umumnya formulasi ini digunakan dengan cara disemprotkan. Contoh: Azidrin 15 WSC.

c. Aquaeous Solution (AS), merupakan pekatan yang bisa dilarutkan dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam bentuk AS umumnya yang dimorfulasikan dalam bentuk garam herbisida asam yang memiliki kelarutan tinggi dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam bentuk ini digunakan dengan cara disemprotkan. Contoh: 2-metil-4-klorofenoksiasetat (MCPA) dan 2,4-diklorofenoksi asetat (2,4-D).

d. Soluble Liquid (SL), merupakan pekatan cair. Jika dicampur air, pekatan cair ini akan membentuk larutan. Pestisida ini juga digunakan dengan cara disemprotkan.
e. Ultra Low Volume (ULV), merupakan sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah, yaitu volume semprot antara 1-5 liter/hektar. Formulasi ULV umumnya berbasis minyak karena untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah digunakan butiran semprot yang sangat halus.

f. Pekatan dalam minyak (Oil concrentrat) adalah formulais cair yang berisi bahan aktif dalam kosentrasi tinggi yang dilarutkan dalam pelarut hidrokarbon aromatik seperti xilin atau nafta. Penggunaannya biasa diencerkan dengan pelarut hidrokarbon yang lebih murah (missal solar), baru disemprotakan atau dikabutkan (fogging). Contoh: Sevin 4 Oil.

g. Formulasi aerosol. Dalam hal ini pestisida dilarutkan dalam elarut organik, dalam kosentrasi rendah dimasukkan dalam kaleng berisi gas yang bertekanan, dikemas dalam bentuk aerosol siap pakai. Contoh: Flygon aerosol.
h. Bentuk cair yang mudah menguap (liquefied gases). Pestisida ini terdapat dalam bentuk gas yang dimanpatkan pada tekanan tertentu dalam suatu kemasan. Penggunaannya ialah dengan cara fumigasi ke dalam ruangan atau tumpukan bahan makanan atau penyuntikan ke dalam tanah. Contoh: Methyl bromide.
3. Kode Formulasi pada Nama Dagang
Bentuk formulasi dan kandungan bahan aktif pestisida dicantumkan di belakang nama dagangnya. Adapun prinsip pemberian nama dagang sebagai berikut:
a. Jika diformulasi dalam bentuk padat, angka di belakang nama dagang menunjukkan kandungan bahan aktif dalam persen. Sebagai contoh herbisida Karmex 80 WP mengandung 80% bahan aktif. Insektisida Furadan 3 G berarti mengandung bahan aktif 3%.
b. Jika diformulasi dalam bentuk cair, angka di belakang nama dagang menunjukkan jumlah gram atau mililiter (ml) bahan aktif untuk setiap liter produk. Sebagai contoh, fungisida Score 250 EC mengandung 250 ml bahan aktif dalam setiap liter produk Score 250 EC.
c. Jika produk tersebut mengandung lebih dari satu macam bahan aktif maka kandungan bahan-bahan aktifnya dicantumkan semua dan dipisahkan dengan garis miring. Sebagai contoh, fungisida Ridomil Gold MZ 4/64 WP mengandung bahan-bahan aktif metalaksil-M 4% dan mankozeb 64% dan diformulasi dalam bentuk WP.

B. Toksisitas Pestisida
1. Bahaya Pestisida
Walaupun pestisida ini mempunyai manfaat yang cukup besar pada masyarakat, namun dapat pula memberikan dampak negative pada manusia dan lingkungan. Pada manusia pestisida dapat menimbulkan keracunan yang dapat mengancam jiwa manusia atau menimbulkan penyakit atau cacat. Dapat dikatakan bahwa tidak satu pun zat kimia yang tanpa resiko, namun dapat digunakan dengan aman dan efektif bila cara memegang, menggunakan, menyimpan, transportasi sesuai dengan petunjuk atau aturan yang tertera pada label dalam wadah atau pembungkus dari pabrik yang memproduksinya.

Gambar 2.12. Mekanisme Keracunan Pestisida
2. Toksisitas Akut Pestisida
Besarnya daya racun suatu pestisida dinilai dari toksiksitasnya. Toksiksitas akut pestisida dapat dinyatakan dengan 2 simbol, yaitu: LD 50 (Lethal Dose 50) atau LC 50 (Lethal Concentration 50) ialah kadar atau kosentrasi pestisida yang diperkirakan dapat membunuh 50 persen binatang percobaan. Satuannya ialah mg bahan aktif suatu pestisida per kg berat badan binatang percobaan (mg/kg). Penentuaan toksiksitas akut pestisida dapat digunakan bintang percobaan: tikus putih, anjing, burung atau ikan. Dikatakan bahwa tikus secara biologis mempunyai sifat sama seperti manusia, sehingga dapat diasumsikan bahwa sensitivitas pada tikus relatif sama dengan manusia.
Toksiksitas pestisida sangat tergantung pada cara masuknya pestisida ke dalam tubuh. Pada penentuan toksiksitas pestisida per oral, pestisida diberikan melalui makanan dan diperoleh LD 50 oral, dan yang melalui kulit diperoleh LD 50 dermal, dan bila pemaparan melalui air atau udara (terhisap) ditentukan LC 50 selama 24 jam, 48 jam, 96 jam, dan seterusnya (lama waktu pemaparan). LC umumnya dinyatakan dalam ppm (part per million) atau ppb (part per bilion).
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan toksiksitas suatu pestisida ialah:
a. Route pemakaian atau pemaparan per oral, dermal, inhalasi.
b. Untuk LC 50 perlu dinyatakan berapa lama waktu pemaparan, biasanya dipakai waktu 24 jam, 48 jam, atau 96 jam.
c. Pestisida umunya dinyatakan dalam bentuk bahan aktif tunggal, dan jarang sekali sebagai bahan formula.
d. Toksiksitas yang ditetapkan bersifat akut, bukan toksiksitas kronis.
e. Semakin kecil angka toksiksitas suatu pestisida semakin toksik (semkain kuat efek toksiknya).
f. Nilai LD 50 atau LC 50 akan berubah bila bercampur dengan bahan kimia yang tidak toksik, tetapi bersifat sinergis atau antagonis terhadap bahan aktif.
g. Pencampuran dengan bahan sinergis mengakibatkan pestisida tersebut semakin toksik (LD 50 semkin kecil), dan sebaliknya dengan bahan antagonis akan menurunkan toksiksitasnya.
3. Toksikologi Pestisida
a. Organofosfat
Contoh produk antara lain: diazinon, fention, dikholorfost, dimetoat, malation, TH. Biasanya digunakan sebagai insektisida untuk pembasmi hama tanaman. OP merupakan antikholinesterase menetap yang bekerja memfosforilasi enzim kolinesterase secara menetap, sehingga enzim ini tidak dapat aktif lagi. Enzim ini berfungsi menghidrolisis neurotrasmiter asetilkolin (ACh) menjadi kolin (tidak aktif) dan asam asetat. Pada keracunan, karena hamper semua enzim tersebut tidak aktif, terjadi penumpukan Ach dalam sinaps koliergik yang menimbulkan gejala perangsangan terus-menerus saraf muskarinik dan nikotinik. Semua jenis OP diabsorbsi dengan baik melalui oral, inhalasi, maupun kulit yang sehat. Gejala keracunan OP muncul dengan cepat (beberapa menit sampai beberapa jam) dan rangkaian gejala sangan progresif. Gejala permulaan berupa enek, muntah, rasa lemah, sakit kepala, dan gangguan penglihatan. Gejala SSP berupa ataksia, hilangnya refleks, bingung, sukar bicara, kejang disusul paralisis otot pernapasan sehingga dapat menimbulkan kematian.
b. Karbamat
Contoh dari karbamat yaitu: carbaryl, carbofuran, cartab. Karabamat digunakan sebagai insektisida. Seperti halnya dengan OP karbamat juga merupakan antikolinesterase, tetapi inaktivasi enzim kolinesterase oleh karbamat hanya bersifat sementara karena reaksinya reversible. Sebagian insektisida karbamat diserap dengan baik melalui oral, inhalsi, dan kulit yang sehat. Diantaranya juga banyak yang tidak diserap melaui kulit, tetapi peringatan yang sama tetap berlaku karena ada diantaranya yang toksiknya sama dengan insektisida OP yang paling toksik. Gejala keracunan sama dengan insektisida OP, tetapi gejala ini tidak berlangsung lama. Meskipun gejala keracunannya cepat menghilang, tetapi karena munculnya cepat dan menhebat dengan cepat, kematian tetap dapat terjadi, terutama karena depresi pernapasan yang tidak cepat mendapat pertolongan.
c. Organoklorin
Contoh dari organoklorin yaitu aldrin, chlordane, DDT. Semua OC diserap dengan baik melalui oral, inhalasi, dan kulit yang sehat. Pada para pekerja yang terpapar OC, keracunan yang terjadi biasanya akibat absorbs melalui kulit dan terakumulasi dalam tubuh. Gejala keracunan akut muncul 20 menit sampai 12 jam, dengan gejala sentral berupa kejang epileptiform yang kadang didahului malaise, sakit kepala, enek, muntah, termor, fasikulasi otot lengan dan tungkai, serta menurunya kesadaran. Gejala keracunan kronis biasanya terjadi pada para pekerja yang terpapar OC, berupa gejela-gejala aspesifik seperti sakit kepala, pusing, mengantuk, susah tidur, tidak dapat memusatkan pikiran dan kelemahan.
d. Rodentisida Antikoagulan (AC)
Produk komersial yang termasuk rodentisida AC diantaranya brodifakum, kumatetraril, difasinon. Penggunaan rodentisida antikoagulan sebagai rodentisida untuk membasmi tikus. Antikoagulam merupakan penghambat kompetitif vitamin K dalam sintesis faktor-faktor pembekuan darah (faktor II protrombin, faktor VII, XI dan X di dalam hati), sehingga terjadi penururnan kadar faktor-faktor tersebut dalam darah dan terjadi gangguan mekanisme koagulasi darah. Setelah beberapa waktu akan terjadi pengososngan faktor-faktor tersebut dalam sirkulasi darah yang berakibatterjadinya perdarahan. Dalam toksik AC menimbulkan perdarahan di dalam tubuh, dan inilah yang mendasari kerjanya sebagai rodentisida dan toksisitasnya pada manusia. Kerja ini dapat diantagonisir oleh vitamin K1. AC hanya menimbulkan keracunan bila tertelan, karena rodentisida hanya dapat diserap malalui saluran cerna. Gejala keracunan rodentisida segera setelah makan terjadi rasa tidak enak dan muntah, akan tetapi pada beberapa kasus gejala tidak terlihat dalam beberapa hari sebelum gejala keracunan sebenarnya terlihat. Gejala dan tanda yang khas terjadi akibat meningkatnya kecenderungan perdarahan yang dapatberupa perdarahan pada hidung, saluran cerna dan gusi, perdarahan pada air kemih dan tinja.
e. Rodentisida Seng Fosfid (ZP)
Penggunaan rodentisida seng fosfid ini adalah untuk racun tikus. ZP tersedia dalam bentuk bubuk berwarna hitam seperti bubuk arang. Efek toksik seng fosfid (ZP) didasarkan atas terbentuknya fosfin (hydrogen fosfid=PH3), suatu gas yang sangat toksik. Gas ini terbentuk bila ZP bereaksi dengan asam kuat, misalnya dengan asam lambung. Oleh karena itu ZP hanya menimbulkan keracunan bila ZP tertelan atau bila terinhalasi gas fosfin yang terbentuk dari ZP yang terkena atau tercampur dengan asam kuat. Bila ZP tertelan maka akan timbul gejala enek, muntah, sesak napas, dan dapat merusak pembuluh darah. Bila gas fofin terinhalasi timbul rasa nyeri di daerah diafragma, sesak napas, rasa lemah, tremor, kejang, dan udema paru yang dapat menyebabkan kematian.
f. Senyawa Piretroid
Contoh produk komersial piretroid antara lain Cypermethrin, Deltamethrin, dan Fenvalerate. Penggunaan senyawa piretroid adalah untuk insektisida. Tanda dan gejala keracunan akibat senyawa piretroid diantaranya iritasi mukosa saliva, rasa nyeri local pada muka, dan efek ini bersifat reversibel dan tidak memerlukan pengobatan khusus.
g. Senyawa Dinitrofenolik
Contoh produk dari senyawa ini antara lain DNOC (Dinitro-cresol), Binapacryl, dan Dinoseb. Cara kerja dinitrofenol ini akan mengganggu proses fosforilasi oksidatif dan keracunan terjadinya karena kecepatan metabolisme meningkat secara mendadak. Gejala keracunan dapat berupa tremor, pernapasan cepat, berkeringat, insomnia, gelisah, haus, suhu tubuh meningkat, takikardi dan kelemahan. Kulit yang menadi kuning dan adanya warna kuning pada sclera menunjukkan adanya pemaparan dengan dinitrofenol.

C. Penangana Pestisida
Usaha atau tindakan pencegahan yang perlu dilakukan dalam pemakaian pestisida adalah (Wikipedia, 2011):
1. Mengetahui dan memahami dengan yakin tentang kegunaan suatu pestisida. Jangan sampai salah berantas. Misalnya, herbisida jangan digunakan untuk membasmi serangga. Hasilnya, serangga yang dimaksud belum tentu mati, sedangkan tanah dan tanaman telah terlanjur tercemar.
2. Mengikuti petunjuk-petunjuk mengenai aturan pemakaian dan dosis yang dianjurkan pabrik atau petugas penyuluh.
3. Jangan terlalu tergesa-gesa menggunakan pestisida. Tanyakan terlebih dahulu pada penyuluh.
4. Jangan telat memberantas hama, bila penyuluh telah menganjurkan menggunakannya.
5. Jangan salah dalam memakai pestisida. Lihat faktor lainnya seperti jenis hama dan kadang-kadang usia tanaman juga diperhatikan.
6. Menggunakan tempat khusus untuk pelarutan pestisida dan jangan sampai tercecer.
7. Memahami dengan baik cara pemakaian pestisida.
Pengamanan pengelolaan pestisida adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mencegah dan menanggulangi keracunan dan pencemaran pestisida terhadap manusia dan lingkungannya. Perlengkapan pelindung pestisida terdiri dari (Prijanto, 2009):
1. Pelindung kepala (topi)
2. Pelindung mata (goggle)
3. Pelindung pernapasan (repirator)
4. Pelindung badan (baju overall/apron)
5. Pelindung tangan (glove)
6. Pelindung kaki (boot).
Persyaratan pembuangan dan pemusnahan limbah pestisida sebagai berikut:
1. Sampah pestisida sebelum dibuang harus dirusak/dihancurkan terlebih dahulu sehingga tidak dapat digunakan lagi.
2. Pembuangan sampah/limbah pestisida harus ditempat khusus dan bukan di tempat pembuangan sampah umum.
3. Lokasi tempat pembuangan dan pemusnahan limbah pestisida harus terletak pada jarak yang aman dari daerah pemukiman dan badan air.
4. Pembuangan dan pemusnahan limbah pestisida harus dilaksanakan melalui proses degradasi atau dekomposisi biologis termal dan atau kimiawi.
Menekan risiko dan menghidari dampak negatif penggunaan pestisida bagi pengguna, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Peraturan Perundangan
2. Pendidikan dan Latihan
3. Peringatan Bahaya
4. Penyimpanan Pestisida
5. Tempat Kerja
6. Kondisi Kesehatan Pengguna
7. Peralatan Pelindungan (Djojosumarto dalam Prijanto, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Butarbutar, J. 2009. Pestisida dan Pengendaliannya. Koperasi Serba Usaha “SUBUR” Provinsi Sumatera Utara. Medan. www.koperasisubur.com. Diakses 10 Mei 2011.

Munaf, Sjamsuir. 1997. Keracunan Akut Pestisida. Jakarta: Widya Medika.

Prijanto, Teguh Budi. 2009. Analisis Faktor Risiko Keracunan Pestisida Organofosfat Pada Keluarga Petani Hortikultura Di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Tesis. Program Studi Kesehatan Lingkungan. Universitas Diponegoro. Semarang. Dipublikasikan.

Runia, Y. A. 2008. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keracunan Pestisida Organofosfat, Karbamat Dan Kejadian Anemia Pada Petani Hortikultura Di Desa Tejosari Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Tesis. Magister Kesehatan Lingkungan. Universitas Diponegoro. Dipublikasikan.

Wikipedia. 2011. Pestisida. www.wikipedia.org. Diakses 10 Mei 2011.

Related Sites

Kafeina - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kafeina - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas: Kafeina , atau lebih populernya kafein , ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif dan ...

Sources : http://id.wikipedia.org/wiki/Kafeina

Indonesia adalah negara agraris: Merk dagang & Nama Kimia ...

Indonesia adalah negara agraris: Merk dagang & Nama Kimia ...: Secara komposisi, setiap formulasi pestisida pertanian/produk perlindungan tanaman yang diperdagangkan terdiri atas tiga bagian utama, yaitu: bahan aktif ...

Sources : http://cahndeso-mbangundeso.blogspot.com/2011/06/merk-dagang-nama-kimia-produk-pestisida.html

Insektisida - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Insektisida - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas: Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk membunuh serangga. Insektisida dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku ...

Sources : http://id.wikipedia.org/wiki/Insektisida

ISI DAN ARTI PENTING LABEL PADA KEMASAN PESTISIDA DITINJAU ...

ISI DAN ARTI PENTING LABEL PADA KEMASAN PESTISIDA DITINJAU ...: isi dan arti penting label pada kemasan pestisida ditinjau dari berbagai aspek oleh : kelompok i. shalahuddin mp h0708063. ayu wulan sari h0708084

Sources : http://pardjons.staff.uns.ac.id/2011/10/30/isi-dan-arti-penting-label-pada-kemasan-pestisida-ditinjau-dari-berbagai-aspek/

pardjons

pardjons: Just another blognya staff dan dosen uns (universitas sebelas maret) weblog

Sources : http://pardjons.staff.uns.ac.id/

TOKSISITAS DAN FORMULASI PESTISIDA Responses

Leave a Reply